11 ODHA Ada di Satu Desa

725
Asisten Koordinator KPA Lamsel Zakaria

KPA dan Klinik VCT Temukan 15 ODHA Baru

KALIANDA – Sense of crisis. Begitulah gambaran penyebaran penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Lampung Selatan. Belum genap tiga bulan tahun 2017 ini, jumlah orang yang dinyatakan mengidap penyakit ini bertambah 15 orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Angka tersebut melonjak drastis. Pasalnya, jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah ODHA yang ditemukan sepanjang tahun 2013 sebanyak 13 ODHA.

Yang memprihatinkan sekitar 75 persen dari 15 ODHA atau sekitar 11 orang yang baru ditemukan awal tahun ini oleh klinik voluntary counseling testing (VCT) dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) berada di satu desa di Kecamatan Candipuro.

Asisten Koordinator KPA Lamsel Zakaria menjelaskan, total jumlah ODHA yang ditemukan diwilayah Lamsel hingga saat ini mencapai 146 ODHA. Termasuk 15 ODHA baru yang ditemukan awal tahun ini.

BACA :  NU dan Muhammadiyah Ingatkan Dewan Baru Pro Rakyat

KPA Lamsel sendiri tidak menampik tingginya angka ODHA dikarenakan selama dua tahun terakhir tidak ada penyuluhan secara intens akibat keterbatasan anggaran.

“Kurang lebih dua tahun ini kita tidak intens. Karena, memang tidak pernah dianggarkan lagi untuk KPA. Biasanya, anggaran kita digabungkan dengan Bagian Kesejahteraan Sosial (Kesos) Setdakab Lamsel,”ungkap Zakaria saat ditemui di Sekretariat KONI Lamsel, kemarin.

Dia menjelaskan, kondisi ini terjadi akibat tidak ada lagi penyuluhan dari penjangkau yang memang biasanya mendapatkan anggaran dari KPA. Sehingga, dapat dipastikan penularan HIV/AIDS di Lamsel bisa terus meluas.

“Dari orang yang kami sebut penjangkau ini dapat banyak informasi. Karena memang mereka yang bisa menembus populasi kunci. Tetapi, VCT mobile masih terus kita lakukan dengan keterbatasan anggaran yang ada,”imbuhnya.

BACA :  SMAN 2 Kalianda Implementasikan SMA Zonasi 2019

Zakaria menilai, penularan penyakit HIV/AIDS sangat mungkin terjadi di wilayah yang terdapat perputaran roda perekonomian. Karena, disana terdapat orang-orang baru yang datang dan tidak diketahui asal-usulnya.

“Apalagi sekarang ini kita ada pembangunan JTTS. Kita tidak tahu pekerjanya dari mana-mana. Tidak menutup kemungkinan juga ada warga kita yang pekerjaannya sebagai PSK menjajakan diri, Karena, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,”bebernya.

Dia berharap, TAPD Lamsel bisa menambah anggaran untuk kegiatan penyuluhan KPA pada tahun mendatang. Sehingga, penularan penyakit HIV/AIDS bisa ditekan.

“Tahun ini kalau tidak keliru KPA hanya mendapatkan anggaran Rp35 juta setahun. Jumlah itu sangat terbatas sekali. Mudah-mudahan, tahun depan bisa ditambah lagi,”pungkasnya. (idh)

BAGIKAN