390 Hektar Tanaman Padi di Candpuro Puso

652
Dok. – Inilah penampakan banjir yang sempat merendam ribuan hektar sawah di Kecamatan Candipuro beberapa waktu lalu menyebabkan 390 hektar tanaman padi puso.

CANDIPURO – Banjir yang menerjang tiga desa di Kecamatan Candipuro beberapa waktu lalu mengakibatkan sekitar 390,75 hektar tanaman padi milik petani puso.

Informasi yang dihimpun Radar Lamsel dari luas lahan sekitar 1.368,5 hektar yang tersebar di Candipuro, seluas 390,75 hektar tanaman padi usia 60 – 70 hari itu gagal panen akibat terendam banjir.

Muklisin (45), salah seorang anggota Kelompok Tani Desa Banyumas, Kecamatan Candipuro mengatakan, penyebab gagal panen itu lantaran padi milik mereka sudah diberi pupuk sebelum banjir melanda. “Untuk padi yang belum dipupuk meski terendam banjir seharian, masih ada kemungkinan untuk bisa diselamatkan,” kata Muklisin, Selasa (7/3) kemarin.

Sementara padi yang sudah diberi pupuk dipastikan mati jika terendam banjir. Sebab, kata Muklisin padi yang sudah dipupuk tidak bisa terendam banjir sedikitpun. “Kalau sudah dipupuk pasti akan mati, tanaman padi menerima tekanan dari suhu panas pupuk disertai rendaman banjir,” beber dia.

BACA :  Berkas Kasus ’17 Mahasiswa’ Dilimpahkan ke PN Kalianda

Terpisah, Kepala UPT Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kecamatan Candipuro Legiyem mengatakan, jumlah tersebut masih bisa berubah sewaktu-waktu. “Kami terus menghitung jumlah kerugian akibat banjir,” ujarnya.

Lebih lanjut Legiyem menjelaskan, para petani di Kecamatan Candipuro rata-rata sudah satu kali melakukan pemupukan terhadap tanaman padi yang masih dalam masa vegetatif tersebut. “Hampir seluruh petani sudah melakukan pemupukan sebanyak satu kali,’ katanya lagi.

Saat ditanya mengenai rincian terhadap modal penanaman padi bagi petani? Legiyem menerangkan, untuk satu hektar sawah diperlukan bibit sebanyak 25 kilogram dengan rincian harga Rp 250. 000,-. Sementara untuk biaya tanam per hektar menelan dana sebesar Rp 800.000,- ditambah lagi operasional bajak yang menelan anggaran sebesar Rp 1,2 juta per hektar.

BACA :  Nanang Bantu Korban Banjir

“Itu pun belum termasuk pupuk senilai Rp 880.000,- per hektar, dengan asumsi pemupukan dua hingga tiga kali dalam semusim,” imbuhnya.

Sementara Kepala Desa Sinar Pasemah Puji Purwantoro, juga membenarkan keluhan para petani yang tanaman padinya dipastikan puso. Padi jenis Muncul dan Cilamaya milik petani itu setidaknya menjadi harapan satu-satunya bagi para petani untuk bisa dipanen tahun ini.

“Petani kembali dipusingkan, dengan biaya operasional yang sudah habis tapi musibah banjir yang melanda memupus harapan semua untuk panen tahun ini,” tandasnya. (ver)

BAGIKAN