Amankan 1.997 Burung Tanpa Dokumen

19
Ist. Radar Lamsel – Kapolres Lamsel, AKBP. Edi Purnomo, S.IK saat mengecek burung-burung ilegal yang diamankan di kantor KSKP Bakauheni, Minggu (8/12/2019).

BAKAUHENI – Pelabuhan Bakauheni memang menjadi jalur favorit bagi pelaku penyelundupan. Polisi sudah cukup sering mengamankan berbagai jenis yang dikirim secara ilegal lewat jalur pelabuhan paling sibuk se-Sumatera ini. Tapi nyatanya pengiriman hewan tanpa dokumen tersebut masih sering terjadi.

Sekitar pukul 02.30 WIB, Minggu (8/12/2019), Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni menggagalkan penyelundupan burung sebanyak 1.997 ekor. Burung berjenis perenjak, tilang, sutra, pleci, samperling, tilang putih, cecorok, tilang mas, cucak mini, cucak biru, cucak ijo, srigunting, pentet, bubur, dan perkutut ini diamankan di seaport interdiction pelabuhan setempat.

Kapolres Lampung Selatan, AKBP. Edi Purnomo, S.IK mengungkapkan burung-burung berbagai jenis yang diangkut kendaraan minibus B2 1699 UQ itu akan dikirim ke Jakarta. Dari hasil penyelidikan, burung berbagai jenis itu berasal dari Pekon Wonodadi, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

BACA :  4 Dusun di Desa Bakauheni Rawan Banjir

Edi mengatakan penangkapan burung-burung tersebut dilakukan setelah petugas mengintrogasi sopir kendaraan. Namun sopir itu tak mampu menunjukkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat utama pengiriman satwa ke Pulau Jawa. Polisi kemudian menahan ribuan burung yang sudah dikemas sedemikian rupa.

“Dimasukkan kedalam 24 keranjang box. Ada 40 box keranjang kecil dan 60 besek,” kata Edi saat press release di kantor KSKP Bakauheni.

Mantan Kapolres Mesuji ini mengatakan jika pengemudi kendaraan minibus itu bernama Bambang Hermanto (35). Pria asal Desa Linggapura, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah ini dikawal langsung oleh Eko Supriadi (37), warga Pekon Wonodadi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Eko merupakan pemilik burung-burung itu.

BACA :  4 Dusun di Desa Bakauheni Rawan Banjir

“Rencananya mau didistribusikan di kios-kios yang ada di pasar pramuka, Jakarta. Mereka (pelaku) beli dari petani-petani yang menjaring burung di hutan,” katanya.

Polisi menduga pelaku pengiriman burung ilegal itu melanggar pasal 31 UU RI No. 16 Tahun 1992 tentang karantina dengan ancaman hukuman penjara selama 3 tahun dan denda sebesar Rp150 juta. “Sementara burung ilegal ini akan diserahkan dibalai Karantina Pertanian Wilayah Kerja Bakauheni,” katanya. (rnd)

BAGIKAN