Asap Sisa Erupsi Masih Ada

642

RAJABASA – Pos Pantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargopancoran, Kecamatan Rajabasa menyatakan kemungkinan asap sisa erupsi di GAK masih berlangsung. Demikian yang dikatakan Kepala Pos Pantau Gak Andi Suwardi ketika dikonfirmasi Radar Lamsel, Kamis (28/6) kemarin.

Andi mengatakan, dari pengamatan terakhir, GAK masih mengeluarkan asap tipis yang memiliki tinggi sekitar 50 meter. Andi juga menyebutkan kemungkinan lain dibalik keluarnya asap tipis setinggi 50 meter itu. Pasalnya, GAK sekarang ini memiliki status sebagai gunung api yang aktif.

“Kalau kemungkinan ada, karena aktifitas gunung berapi memang seperti ini, pasca erupsi ketinggian asap mencapai 50 meter. Sebelum erupsi atau dalam kondisi normal, tinggi asap hanya 25 meter yang berasal dari kawah,” katanya.

Ketika menghadapi kondisi seperti ini, Andi mengatakan pihaknya memang kesulitan memantau aktifitas GAK secara visual karena tertutup kabut dari uap yang ditimbulkan oleh air laut. “Ya pakai teropong, alatanya ada. Tapi tidak bisa tembus karena terhalang kabut,” katanya.

BACA :  Mahir Bahasa Asing, PR Pemandu Wisata

Saat cuaca panas seperti yang terjadi sekarang ini, Andi mengatakan uap air laut akan berlangsung lama. Salah satu cara agar dapat melihat GAK secara visual tergantung dengan kondisi cuaca.

“Kalau masih panas jarang terlihat. Dalam kondisi seperti ini biasanya bisa dilihat hanya satu atau dua kali, itu pun tergantung cuaca, jika hujan bisa dilihat,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami erupsi sekitar pukul 07.14 WIB, Senin (25/6) lalu. Menurut pihak Pos Pantau GAK, erupsi itu terjadi pada pagi hari saja dan hanya berlangsung selama 45 detik.

BACA :  Ketua TP PKK Lamsel: Program PKK Seperti Jimpitan

Dari pantauan saat itu, Kepala Pos Pantau GAK Andi Suwardi memperkirakan ketebalan asap kelabu dari erupsi mencapai 1.000 meter. Setelahnya, GAK hanya mengeluarkan asap putih tipis setinggi 50 meter.

Meski begitu, Andi memastikan erupsi tersebut tak membuat level meningkat dan mempengaruhi kondisi GAK. Andi menerangkan, penyebab erupsi yang terjadi karena adanya peningkatan kegiatan di dalam GAK. Ia juga memastikan bahwa saat ini tidak ada yang perlu di khawatirkan terhadap erupsi  yang ditimbulkan oleh GAK.

“Tidak ada pengaruhnya, status masih sama seperti sebelumnya, waspada level II. Erupsi terjadi karena ada peningkatan kegiatan saja, kemarin hembusannya meningkat. Sementara ini kami memastikan tidak ada hal yang mencemaskan,” katanya. (rnd)

BAGIKAN