Buruh Tuntut PT. San Xiong Steel Beri Hak Normatif

0

KATIBUNG – Peristiwa yang menimpa dua karyawan PT. San Xiong Steel Indonesia hingga mengalami luka bakar 75 persen, memaksa Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lamsel melakukan inspeksi mendadak di perusahaan tersebut.

Pada waktu bersamaan ratusan pekerja PT. San Xiong Steel juga menuntut management perusahaan untuk memenuhi hak normatif seluruh karyawan. Itu digaungkan guna menjamin keselamatan kerja agar peristiwa seperti kedua rekan mereka yakni Ikhsanudin dan Tubagus yang nyaris kehilangan nyawa tidak terulang lagi.

Sekretaris Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) Tri Antoro mengatakan selama ini perusahaan yang beroperasi dibidang peleburan besi itu dianggap tak memberi hak normatif buruh.

Tri menyebutkan beberapa poin yang mesti dievaluasi oleh management yakni, memberikan extra pulding sesuai UU tenaga kerja, pekerja harus didaftarkan ke BPJS ketenagakerjaan, dan kembalikan kartu BPJS kesehatan yang ditahan secara sepihak oleh perusahaan dan jangan ada lagi intimidasi dari perusahaan kepada buruh.

“Karyawan tetap maupun pekerja yang menjalani masa training harus sudah mendapat jaminan sosial dan kesehatan, sebab tingkat keselamatan yang ditawarkan sangat minim. Sehingga tidak menutup kemungkinan pekerja yang masih dalam masa training mengalami kecelakaan fatal, terkena cairan besi panas,” ujar Tri Antoro kepada Radar Lamsel, Rabu (6/12) kemarin.

Untuk tingkatan safety lanjut dia, perusahaan harus memberikan baju anti api ber-SNI, sarung tangan anti api, sepatu anti api, masker atau cadar, hingga helm dan kacamata guna melindungi keselamatan pekerja.

“Selama ini karyawan hanya diberi jaket trucker berbahan jeans, kalau terkena cairan itu jaket tersebut sama sekali tidak melindungi,” beber dia.

Pantauan wartawan koran ini pertemuan tertutup antara Disnakertrans Lamsel dan managemen PT. San Xiong Steel Indonesia sempat terjadi ketegangan. Pasalnya pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam itu sesekali terdengar nada tinggi yang tertangkap hingga keluar ruangan.

Kepala Disnakertrans Lamsel Syahlani mengatakan soal standardisasi keselamatan itu adalah tanggung jawab Disnakertrans Provinsi Lampung. Sebab kata dia kewenangannya hanya sebatas memberikan pembinaan kepada managemen.

“Tugas saya adalah pembinaan, sedangkan masalah keselamatan dan kesehatan adalah kewenangan provinsi. Saya mohon maaf dengan adanya PP UU 23 tahun 2000 kemarin, semua yang namanya pengawasan ditarik semua ke provinsi, bukan ke tenaga kerja,” ujarnya usai menggelar pertemuan dengan managemen perusahaan di Desa Tarahan Kecamatan Katibungm, sore kemarin.

Syahlani melanjutkan dia tak bisa terlalu jauh bicara soal kesehatan dan keselamatan tenaga kerja. Hanya kata dia pihaknya meminta pertanggungjawaban dari pihak perusahaan.

Disisi lain General Manager PT. San Xiong Steel Indonesia Axuan tak dapat berstatement banyak lantaran terkendala soal bahasa. Sehingga, lagi-lagi keterangan diwakilkan oleh Syahlani.

“Udah-udah, sebetulnya apa yang saya sampaikan tadi adalah putusan kami (Disnakertrans Lamsel dan managemen perusahaan ‘red),” ucap Syahlani.

Sebelum masa dibubarkan Syahlani meminta agar buruh mematuhi aturan main yang diberlakukan perusahaan. Sehingga kata dia, dapat meminimalisir peristiwa kecelakaan kerja. “Kecelakaan adalah musibah, kami sudah menginstruksikan agar perusahaan bertanggungjawab,” tandasnya.

Diketahui penyebab dua karyawan terkena luka bakar disebabkan terjadi ledakan pada cairan vipa buntu yang tak menggunakan orang ketiga. Perusahaan yang beroperasi sejak 2013 silam itu kini memiliki 273 tenaga kerja kontrak.(ver)

Leave A Reply

Copyright © 2017. Radar Lamsel