Harga Jagung Terus Turun, Petani Menjerit

168
Ilustrasi Jagung

Harga Jagung Rp 4.250 Perkilogram

KETAPANG – Wilayah Kecamatan Ketapang merupakan salah satu sentra pertanian tanaman pangan. Hampir sebagian besar wilayah ini ditanami jagung sebagai penghasilan utama oleh masyarakat setempat.

Namun sayang, sebagai wilayah penghasil jagung yang cukup besar, petani belum merasakan hasil yang memuaskan. Seperti musim gadu tahun ini. Sejak memasuki musim panen, harga jagung diwilayah ini terus mengalami penurunan.

Sejumlah pabrik penampung hasil pertanian jagung di Kecamatan Ketapang menawarkan harga yang berbeda. Informasi yang dihimpun Radar Lamsel, harga jagung saat ini bertengger diharga Rp 4.250 perkilogram. Harga tersebut sewaktu-waktu akan berubah sesuai kebijakan pihak pengelola pabrik jagung.

BACA :  Meriahkan HUT RI, K3S Ketapang Gelar Berbagai Lomba

Sekitar dua pekan lalu, harga jagung asalan disalah satu perusahaan penampung hasil panen jagung mencapai Rp 4.350 perkilogram. Namun harga itu tidak bertahan lama. Selama sepekan, penurunan harga terjadi dua kali. Yakni, Rp4.300 perkilogram dan saat ini Rp 4.250 perkilogram.

Penurunan harga ini menjadi keluhan para petani. Pasalnya, petani berharap harga dapat membantu meningkatkan hasil panen musim ini. “Seperti biasa hasil panen setiap musim panen gadu tidak sebagus saat musim rendengan. Sudah hasilnya tidak bagus harganya turun. Ini yang membuat petani mengeluh,” tutur Hendri (37), salah satu petani di Desa Bangunrejo, kemarin.

Laki-laki yang mengaku menanam jagung sekitar 1 hektar ini mengaku, penurunan harga terjadi dua kali dalam sepekan. Kondisi ini membuat petani kecewa. “Harga untuk kebutuhan jagung saat ini sudah meningkat, tapi harga jual jagung tidak sebanding dengan biaya yang sudah dikeluarkan,” ujarnya.

BACA :  Kwaran Ketapang Gelar Persari Bazar Siaga

Wayan (40), petani lainnya mengaku terpaksa menunda panen jagungnya lantaran harga yang terus mengalami penurunan. “Di Ketapang ini ada sekitar empat pabrik yang siap menampung hasil panen petani. Mereka memasang harga yang berbeda-beda. Saat ini yang paling tinggi memberikan harga hanya di PT. Java Confeed. Sedangkan perusahaan lainnya dibawah itu semua selisih sekitar Rp50-100 perkilogram,” tutur Wayan. (man)

BAGIKAN