Harga Kopra Tinggi, Produksi Menurun

2191
Veridial – Pengepul Kopra di Kecamatan Sidomulyo mengeluhkan minimnya hasil kopra tahun 2016 ini. Hal itu disebabkan karena petani lebih memilih menjual kelapa bulat ketimbang kopra, Sabtu (23/4).

SIDOMULYO – Meski harga kopra sedang tinggi, namun di Kecamatan Sidomulyo produksinya terus menurun. Pasalnya para petani setempat enggan membuat kopra dan lebih memilih menjual kelapa bulat.
Pantauan Radar Lamsel, harga kopra saat ini mencapai Rp 7.000 per kilogram atau mengalami peningkatan Rp 2.000 dari harga sebelumnya Rp 5.000 per kilogram.
Menurut Subhari (35), salah seorang pengepul kopra di Kecamatan Sidomulyo, menurunnya harga kopra karena tingginya harga buah kelapa dipasaran sehingga para petani lebih memilih menjual kelapa bulat daripada memproduksi kopra. “Harganya bagus, akan tetapi produksinya sudah sangat minim. Pasaran harga kelapa saat ini Rp 5 – 6 ribu per kilogram. Petani lebih memilih menjual kelapa karena harga sedang bagus,” ujar Subhari, Sabtu (23/4).
Lebih lanjut Subhari mengatakan, masalah lainnya dikarenakan tidak ada peremajaan pohon kelapa dan banyak kebun kelapa dialih fungsikan untuk tanaman lain seperti kopra dan sawit. “Tidak ada peremajaan dari pihak petani juga batang kelapa banyak yang dijual karena harganya yang cukup menggiurkan,” kata dia.
Saat ini sambungya, dalam sehari hanya bisa mengumpulkan kopra dari petani dikisaran 500 – 600 Kg. Jauh berbeda jika dibandingkan tahun lalu yang bisa mencapai 3 – 4 ton per hari. “Terjadi penurunan drastis untuk tahun ini. Paling parah ditahun 2016 ini,” ungkapnya.
Selain itu, kata dia, produksi gula merah ikut menyebabkan rendahnya produksi kopra. Karena bahan dasar gula merah adalah air nira yang diperoleh dari buah kelapa. “Produksi gula merah juga mempengaruhi menurunnya kopra,” ujarnya.
Sementara itu salah seorang petani di Desa Kotadalam Qomar (50) mengatakan, tiap tahun dirinya selalu menebang pohon kelapa untuk keperluan sehari-hari bahkan untuk biaya sekolah anaknya. “ Terpaksa tiap tahun saya tebang, untuk biaya anak sekolah,” ujar pria ini.
Pohon kelapa yang ditebang tidak digantikan dengan pohon yang baru, karena proses penanaman kelapa yang memakan waktu hingga bertahun-tahun. “ Petani enggan menanam kembali, karena jika menanam pohon kelapa bisa memakan waktu hingga 10 tahun. Yang mengakibatkan petani enggan menanamnya kembali,” katanya.
Untuk saat ini sambungnya, para petani yang memiliki kebun kelapa lebih memilih menjual kelapa dibandingkan dengan membuat kopra. “ Jika menjual kelapa, setiap minggu agen datang untuk membeli kelapa yang sudah tua. Sedang kopra selain memakan waktu juga membutuhkan biaya,” pungkasnya. (Cw3)

BAGIKAN