Hasil Panen Cengkih Tak Lagi Menjanjikan

400
Idho Mai Saputra – Warga Desa Canti, Kecamatan Rajabasa tengah menjemur cengkih hasil panen di jalanan depan rumahnya, kemarin.

Minta Pemerintah Berikan Solusi

          RAJABASA – Hukum ekonomi sepertinya dimanfaatkan betul oleh para tengkulak atau pengumpul hasil bumi di wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Hal ini terbukti dengan penurunan harga jual cengkih dari para petani yang turun drastis pada saat panen raya hanya mencapai Rp60 ribu per kilogram.

          Akibatnya, para petani pribumi yang berdomisili di kaki Gunung Rajabasa menjerit dengan kondisi tersebut. Kejayaan di masa lampau dengan mengandalkan hasil panen cengkih tak lagi mereka rasakan di era saat ini.

          Seperti penuturan Adam warga Desa Canti, Kecamatan Rajabasa. Rendahnya harga jual cengkih kering ini dirasakan tidak sebanding dengan biaya produksi hingga siap jual kepada tengkulak.

          “Secara detail kita terlalu pusing merincikannya. Dari mulai pembelian pupuk, perawatan, vitamin dan sampai ongkos buruh petik cengkih yang dibayar per kilogram dari hasil yang mereka peroleh. Belum lagi resiko saat penjemuran nya. Karena cuaca belum stabil memasuki musim kemarau. Kalau kehujanan jelas tidak akan sempurna dan harga jualnya juga menurun,” tutur Adam kepada Radar Lamsel, kemarin.

BACA :  Pantai Sikop Jadi Pusat Budidaya Terumbu Karang

          Dia menerangkan, penurunan harga jual cengkih terus terjadi dalam kurun waktu sebulan terakhir. Awalnya, mereka masih menjual cengkih kepada pengumpul dengan harga Rp75 ribu per kilogram. Namun, setiap harinya terus mengalami penurunan harga jual dengan alasan kebanjiran stok barang.

          “Sangat dilematis sekali sebetulnya. Di lain hal kami ingin menahan cengkih untuk dijual sampai harga bagus. Tetapi, di sisi lain ada buruh petik yang menunggu kami. Apa iya kami tidak menghargai keringat orang yang sudah bekerja membantu di kebun. Konsisi sekarang kami juga tidak memiliki uang lebih untuk memenuhi ongkos buruh petik,” bebernya.

BACA :  Dilema Kapal Pera Diatas Kepentingan Rakyat

          Hal senada dikatakan Samsul Bahri warga Desa Pematang, Kecmatan Kalianda. Menurunya hasil panen cengkih tahun ini dianggap tidak mampu mencukupi biaya produksi yang dikeluarkannya.

          “Banyak tanaman cengkih yang mati karena cuaca sekarang ini. Terus  ada lagi penurunan hasil panen dari setiap pohonnya atau buah yang dihasilkan berkurang dari sebelumnya. Sementara biaya produksinya tetap sama untuk pembelian pupuk dan vitamin,” kata Samsul.

          Dia berharap, ada upaya dari pemerintah mengatasi persoalan ini. Sehingga, para petani yang hanya mengandalkan panen satu tahun sekali bisa merasakan keuntungan yang maksimal.

          “Harusnya pemerintah mencari solusi bagaimana agar para tengkulak atau pengepul tidak menentukan harga seenak mereka sendiri. Misalnya dengan cara pemerintah membeli hasil panen warga dengan harga yang bagus. Denga begitu, kami punya pilihan untuk menjual hasil panen cengkih ini,” pungkasnya. (idh)

BAGIKAN