Idamkan Pria Berkomitmen

864

BELAKANGAN ketampanan pria seringkali terpancar dari sikap tanggungjawab serta komitmen yang dipegang teguh. Sosok pria macam ini tak ayal membuat gadis manapun mendambakannya.

Ternyata pria berkomitmen dan bertanggungjawab itulah yang juga didambakan sosok Dina Aprilia (19) muli asal Desa Sukajaya, Kecamatan Penengahan ini. Kegemarannya menonton drama korea ternyata melatarbelakangi dirinya mendambakan pria idaman penuh tanggungjawab dalam drama tersebut.

Muli yang sedang mengeyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Tangerang itu tidak menampik jika saat ini dirinya tak terfikir untuk pacaran. Namun pendamping hidup seringkali didambakan oleh tiap wanita dipenghujung karirnya.

“Kalau saat ini masih sibuk kuliah, mengejar cita-cita dulu, setelah itu baru memikirkan pria idaman,” kata Dina sapaan akrabnya saat ditemui Radar Lamsel, Senin (13/3) kemarin.

Bicara tentang drama korea gadis kelahiran 21 April 1998 ini ternyata jagonya. Bahkan dirinya pun blak-blakan mengagumi sosok Ji Chang Wook dan Lee Jong Suk. Kedua aktor ternama Korea itu dinilai memiliki segalanya yang didambakan wanita kebanyakan.

Dina mengaku hobi menonton drama korea sejak duduk dibangku SMA. Ya, masa-masa SMA sedikit-banyak mendapat tempat spesial dihatinya. “Dulu kan booming nonton drama korea, jadi ketagihan sampai sekarang, bahkan tipikal pria idaman pun datang dari peran yang dimainkan aktor dalam film tersebut,” beber Dina.

Anak bungsu dari pasangan Zulkifli Tawang dan Erliyanti itu kini tengah sibuk bergelut dibangku perkuliahan. Melihat jurusan yang ditekuninya, jelas Dina bercita-cita menjadi seorang guru. “Kalau saya ingin sperti kedua orang tua yang menjadi guru, itu cita-cita sejak kecil,” ujar Mahasiswi semester II FKIP UMT ini.

Saat ditanya apakah pria idamannya juga seorang guru? Dina tidak menampiknya, satu profesi, satu keyakinan tentu akan menciptakan hubungan yang serasi dikemudian hari.

Jauh dari orangtua serta masih dalam fase awal perkuliahan membuat anak ketiga dari tiga bersaudara ini lebih survive menjalini aktifitasnya. Pernah satu ketika, dirinya sakit dan enggan memberi kabar kepada orangtua dirumah.

“Waktu itu yang paling membekas ketika sakit, saya tak mau memberitahu orangtua, takut mereka khawatir saja. Untungnya masih banyak sahabat seperjuangan yang masih perhatian,” kenang Dina kala itu.

Apakah motivasi untuk menjadi seorang guru itu murni dari lubuk hati, meski kadang kesejahteraan guru kini tidak senikmat yang dibayangkan?. Dina mengaku keinginan menjadi seorang guru tak terlepas dari sosok kedua orang tuanya yang mengabdi sebagai guru.

“Menurut saya menjadi guru memiliki tantangan tersendiri, tapi soal kesejahteraan memang banyak guru honorer yang menjerit sih, yah bagaimanapun itu tidak menyurutkan semangat saya untuk menjadi seorang guru,” ujar muli yang aktif di HMI ini. (ver)

BAGIKAN