Kemarau, Hasil Panen Padi Anjlok

14

KALIANDA – Petani padi di sejumlah desa di Kecamatan Ketapang mengeluh. Ini lantaran hasil panen pada musim gadu tahun ini menurun tajam. Bahkan tidak sedikit petani yang gagal panen karena kekeringan.

Salah seorang petani di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang Gandung (47) mengaku, penurunan hasil panen padi pada musim Gadu ini disebabkan karena karena minimnya pasokan air akibat kemarau yang berkepanjangan sehingga banyak buliran padi yang hampa (kosong).

“Pada musim rendeng lalu, lahan seluas seprempat hektar bisa menghasilkan 40 karung padi, sekarang hanya dapat 11 karung,” katanya, Rabu (18/9).

BACA :  Uji E-Money dalam Smart SIM Enam Bulan

Hal senada diungkapkan Efendi (45), petani di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang. Akibat kemarau yang berkepanjangan, hasil panen anjok hingga 65 persen dibandingkan saat panen musim rendeng lalu.
“Panen lalu bisa menghasilkan 7 ton per hektar, sekarang hanya dapat 3,25 ton,” katanya.

Meski turun, ia mengaku beruntung masih bisa panen lantaran masih mendapat pasokan air dari sumur bor walau tersendat. “Anjloknya hasil panen karena kekurangan air. Beruntung masih bisa nyedot dari sumur bor walau tidak seberapa. Kalau gak dapat bantuan air bisa gagal panen,” tuturnya.

BACA :  Pria Ini Cidera Serius Usai Jatuh dari Jembatan Kelapa

Merosotnya produksi padi berdampak pada harga gabah kering panen bertahan tinggi. Berdasarkan keterangan dari pengepul padi di wilayah kecamatan Ketapang dan Sragi, Giono (50), gabah kering panen (GKP) jenis muncul (padi pendek) menembus Rp 4.400-4500/kg, sedangkan padi jenis ciherang dan IR 64 (padi panjang) harganya lebih tinggi mencapai Rp 5.000/kg.

“Meski hasil panen pada musim gadu anjlok, nanun harga gabah terbilang tinggi. Bahkan untuk harga padi panjang kering giling mencapai Rp 5.500 -Rp 5.700/kg,” katanya. (man)

BAGIKAN