Masuki Musim Panen, Petani Bawang Keluhkan Harga Jual

639

PENENGAHAN – Memasuki musim panen yang diprediksi terjadi pada akhir September dan awal Oktober mendatang, sejumlah petani bawang di Kecamatan Penengahan mengaku optimis akan meraih hasil panen yang memuaskan.

Syafruddin (42) petani bawang merah asal Desa Ruangtengah mengatakan prediksi tersebut bakal terealisasi. Dia mengatakan panen kali ini petani akan memperoleh hasil yang bagus karena didukung berbagai faktor ketika memulai musim tanam.

“Sebelum mulai musim tanam, kami sudah mempersiapkan segala kebutuha. Baik untuk perkembangan dan ancaman tanaman,” katanya kepada Radar Lamsel usai mengecek perkembangan tanaman bawang merah di desa setempat, Selasa (18/9) kemarin.

Syafruddin menjelaskan, faktor yang membuat bawang merah memiliki kualitas bagus adalah kondisi cuaca pada musim kemarau. Selain itu, penggunaan bahan organik pada tanaman bawang juga berkontribusi membuat pertumbuhan menjadi maksimal.

BACA :  Pemberdayaan dan Akses Jalan Jadi Prioritas di Tahun 2021

“Perkembangannya bagus, rata-rata 8 siung dan daunnya masih segar. Musim ini tanaman mengalami pertumbuhan yang normal, aman dan terhindar dari serangan hama dan penyakit,” katanya.

Saat ini, umur tanaman bawang di Kecamatan Penengahan sudah memasuki usia 38 – 40 hari. Artinya, kurang lebih 22 hari lagi tanaman bawang merah tersebut sudah bisa dipanen. “Total tanaman yang akan dipanen luasnya 5 hektar,” ucapnya.

Namun sayang, keberhasilan musim panen kali ini agak sedikit dikeluhkan oleh petani bawang merah. Pasalnya, harga jual bawang merah oleh petani saat ini berkisar diangka Rp 8 ribu – Rp 10 ribu.

BACA :  Pemberdayaan dan Akses Jalan Jadi Prioritas di Tahun 2021

Seperti yang dikatakan Udin (41) yang mengeluhkan turunnya harga jual bawang merah. Menurut dia, hal ini tak adil bagi petani karena kualitas bawang yang memiliki kualitas bagus jadi tak berarti.

“Ini jelas jadi masalah, karena harga jual petani saat ini hanya Rp 8 – Rp 10 ribu. Sedangkan harga di pasaran berkisar Rp 18 – Rp 20 ribu, kami merasa tak diuntungkan dan kami beranggapan kalau yang kami lakukan selama musim tanam ini sia-sia,” katanya. (rnd)