Nelayan Korban Tsunami Tunggu Janji Pusat untuk Melaut

226
Kepala DKP Lamsel Meizar Malanesia

DKP Lamsel: Bantuan Belum Ada Kabar

KALIANDA – Nelayan korban tsunami di Lampung Selatan masih menunggu realisasi janji bantuan alat tangkap untuk melaut oleh pemerintah pusat.

Sebagian nelayan yang menjadi korban hantaman gelombang tsunami pada Desember 2018 silam itu saat ini masih belum melaut kembali. Penyebabnya, sebagian besar peralatan tangkap mereka seperti kapal tangkap ikan, perahu hingga jaring tangkap rusak akibat tersapu tsunami.

“Ya belum dapat melaut, bagaimana mau kembali melaut kalau peralatan tidak ada. Kalau sekarang ini ya terpaksa berkebun, itu kalau kita punya kebun. Kalau tidak punya ya nganggur dulu sementara waktu,” kata Jumadi (40) Nelayan asal Desa Way Muli Timur kepada Radar Lamsel, Rabu (17/4).

BACA :  Kades Kalianda dan Rajabasa Dilantik Hari Ini

Beruntung, para nelayan yang menjadi korban tsunami itu saat ini sudah dapat hunian sementara. Disana mereka mulai mencari aktifitas baru, tak sedikit yang beralih profesi dari nelayan menjadi buruh bangunan.

“ Untungnya sudah ada huntara, kalau huntara ini belum jadi ya kami tambah biungun lagi. Sebagai nelayan kami berharap pemerintah daerah terus berupaya agar dapat menurunkan bantuan alat tangkap dari pusat yang dulu sempat digembar-gemborkan,” ujar pria yang mengaku sudah sepekan menetap di huntara itu.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lamsel Meizar Melanesia mengatakan bantuan tersebut belum ada kabar hingga kini.

“ Belum ada kabar sampai saat ini, kalau proposal sudah kita ajukan dari jauh hari. Ada ratusan jumlah nya berdasar data yang kami himpun dilapangan,” ujar Meizar di temui di Kalianda usai pencoblosan.

BACA :  Belum Ada Pengajuan Izin SUTET

Untuk diketahui usulan bantuan tersebut bakal direncanakan menyasar lima kecamatan yakni Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Katibung, Sidomulyo dan Bakauheni. Disamping menunggu kepastian bantuan, tak sedikit nelayan yang mulai memutar otak untuk menggeluti profesi baru.

Ya, melaut juga kapal hancur. Sementara kebutuhan sehari-hari juga harus terpenuhi, mau nggak mau harus cari profesi sampingan. Kalau saya berjualan untuk sementara ini di sekitaran GWH,” kata Rojali (38) Nelayan di TPI Dermaga BOM yang kehilangan kapal berukuran 7 GT akibat tersapu tsunami. (ver)

BAGIKAN