No Teacher, No Future

1353
Nama : Putri Intan Sofiana Alamat : Desa Campang Tiga Kecamatan Sidomulyo TTL : Kota Dalam 22 Juni 1997 Pekerjaan : Guru Hoby : Menari Zodiak : Cancer Medsos : Fb. Putri intan sopiyani Ig.Intanputri225

DARI masa ke masa profesi guru selalu menjadi aktor penting dalam melahirkan berbagai profesi anak bangsa. Mulai dari presiden, politisi, pengusaha, petani, pedagang dan hampir seluruh profesi lahir berkat campur tangan seorang guru.

Profesi guru bahkan diyakini sebagai penentu masa depan. Ada istilah yang menyebutkan jika tak ada guru maka tak akan ada masa depan. (no teacher, no future)

Hal itulah yang menjadi penyemangat Putri Intan Sofiani, dalam menjalani profesinya sebagai seorang guru SD Islam Assyfa Pardasuka, Kecamatan Katibung. Meski terbilang sebagai anak muda, Putri bercita-cita agar anak-anak didiknya bisa menjadi orang besar yang bisa mengabdi bagi orang tua, agama, bangsa dan negara dimasa yang akan datang.

Ya, muli asal Desa Campang Tiga, Kecamatan Sidomulyo ini menilai profesi guru sebagai jabatan publik memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan masyarakat.

Dara Cantik kelahiran 22 Juni 1997 itu mengatakan, jika mengulas lebih jauh profesi guru dimasa lampau dan membandingkan dimasa sekarang tentu ada perbedaan. Namun persamaannya tetap, bahwa guru adalah aktor sentral dalam melahirkan berbagai profesi, serta karakter bangsa.

“Jadi seorang guru itu bukan hal yang gampang, penuh tanggungjawab yang besar, meskipun kadangkala tanggungjawab tak sebanding dengan penghasilan. Tapi itulah guru tetap konsisten mendidik meski profesinya berada di lubang keterpurukan,” ujar gadis berjilbab itu kepada Radar Lamsel, Rabu (14/12) kemarin.

Dikatakannya, selain memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik. Guru juga dituntut berlaku profesional, mulai dari tingkah laku, hingga kesehariannya. “Guru menjadi panutan,” kata Intan sapaan akrapnya.

Lebih dari itu, dimata publik profesi sebagai guru merupakan profesi yang mulia. Meskipun pada nyatanya kesejahteraan guru utamanya yang masih menjadi tenaga honorer masih sangat miris.

“Begitulah konsekuensi menjadi seorang guru harus sabar, meski kesejahteraan guru saat ini bisa dikatakan kurang namun semangat untuk mendidik itu tetap harus dipupuk,” ujar puteri sulung dari pasangan Sofian Hadi dan Rohayati itu.

Tak sampai disitu saja, dara cantik bertinggi badan 150 cm itu juga menyoroti pada minimnya perlindungan atau payung hukum terhadap profesi sebagai guru. Dikatakannya, sudah banyak contoh bagaimana guru di kriminalisasi serta di diskriminasi terkait tindakan yang dinilai tak etis meskipun hal itu kadang diluar kendali seorang guru.

“Harus ada payung hukum dan perlindungan untuk profesi guru, ini menjadi perhatian bagi pemerintah untuk menyikapinya. Karena selama ini banyak kasus yang menyeret guru dan minim payung hukum,” kata gadis yang menyukai seni tari tradisional itu.

Begitu beratnya beban seorang guru, lanjut Intan, meskipun begitu masih saja ada oknum yang mengambing hitamkan guru atas buruknya mental dan moral anak bangsa dimasa sekarang.

“Baik buruknya mental dan moral anak bangsa itu dilimpahkan kepada guru, seharusnya itu diimbangi dengan kesejahteraan guru jika melihat tanggungjawab yang begitu besar, bukan!,” ujar Intan menegaskan.

Intan mengatakan selain mewakili ribuan guru honorer yang satu pemikiran tentunya sangat diharapkan ada perhatian khusus dari pemerintah menyoal profesi guru dimasa sekarang. “Sebagai aktor sentral sudah selayaknya ada perhatian dan dukungan dari pemerintah terhadap nasib guru,” harap dia.

Selain menyoroti perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru dan perlindungan terhadap profesi yang digelutinya saat ini. Intan juga tak lupa bersuara untuk Kabupaten Lampung Selatan yang dipimpin Dr. H. Zainudin Hasan, M.Hum.

Menurutnya, percepatan pembangunan di Bumi Khagom Mufakat saat ini sudah bisa dirasakan hampir diseluruh pelosok desa. “Di era pak Zainudin pembangunan sudah bisa dirasakan hingga ke pelosok, mudah-mudahan pak Bupati tetap semangat membenahi Lamsel,” ujar Intan yang juga berprofesi sebagai bendahara di desa tempat tinggalnya kini.

Sebagai muli asli Lamsel, lanjut dia, kemajuan dari semua bidang menjadi harapan banyak orang. Sebab, kata dia, berbicara Lamsel masih banyak sektor yang harus dibenahi mulai dari pariwisata, pembangunan, kesehatan, kesejahteraan hingga sektor pendidikan juga perlu ditingkatkan. “Untuk Lamsel, tentunya harus bisa bicara banyak dalam hal perubahan,” tandasnya. (ver)

BAGIKAN