Observatorium Gelumpai Kurang Komplit

132
Dok. Radar Lamsel – Observatorium Gelumpay, salah satu titik pantau rukyatul hilal berkedudukan di Desa Canti, Kecamatan Rajabasa.

KALIANDA – Observatorium bukit gelumpai di Desa Canti, Kecamatan Rajabasa tempat langganan tim pemantau rukyatul hilal untuk menentukan titik koordinat bulan telah diserahkan sepenuhnya oleh pusat ke Kementerian Agama (Kemenag) Lampung Selatan.

Berada diantara pegunungan serta berhadapan langsung dengan hamparan laut dibawahnya menjadikan aset tersebut memiliki progres untuk dipatenkan lagi peran dan fungsinya.

Kepala Kantor Wilayah Kemenag Lamsel Juanda Naim menuturkan, tak banyak pos pemantau yang ada di Lampung. Satu diantaranya berada di Lampung Selatan.

“ Kalau gedung dan lokasi sudah sangat strategis. Hanya saja kekurangannya kita tidak punya alat pantau sendiri. Kalau alat tersebut sudah dimiliki tentu observatorium ini dapat menjadi sarana edukasi,” kata Juanda Naim kepada Radar Lamsel, Senin (6/5).

BACA :  NU dan Muhammadiyah Ingatkan Dewan Baru Pro Rakyat

Juanda membeberkan, untuk saat ini baru Kabupaten Pesisir Barat yang sudah memiliki alat pantau sendiri. Sisanya, kata dia, hanya dimiliki oleh perguruan tinggi atau badan instansi terkait.

“ Baru pesisir barat saja yang punya gedung dan alatnya. Mudah-mudahan kedepan keinginan kita untuk punya alat dan membentuk tim rukyatul hilal dapat terwujud,” terangnya.

Disinggung soal wacana pembentukan tim rukyatul hilal tingkat kabupaten? Juanda menegaskan, apabila tim kabupaten sudah ada akan mudah untuk memobilisasi dan tak lagi merepotkan tim dari provinsi untuk dapat memprediksi bulan ramadhan, syawal maupun dzulhijjah.

“ Kalau kita sudah punya tim kabupaten yang didalamnya terlibat pakar dibidangnya tentu akan menjadi nilai plus bagi daerah kita. Sebab selama ini kita belum punya tim tersebut, untuk kedepannya akan kita bahas kembali,” ungkapnya

BACA :  Urban Ethnic di Akhir Pekan

Untuk diketahui, salah satu alat pantau yang kerap digunakan dan familiar dikalangan orang-orang BMKG adalah lunt engineering. Teleskop pabrikan Jerman ini ditaksir senilai ratusan juta rupiah per unitnya.

Terpisah, Kepala Bina Mental dan Spiritual (BMS) Lamsel A.Kholil mengatakan selama observatorium itu berdiri Pemkab Lamsel belum sekalipun datang atau terlibat dalam kegiatan pemantauan hilal.

“ Baru pada pantauan rukyatul hilal tahun 2019 ini melibatkan BMS Lamsel dan ini menjadi awal yang baik koordinasi antara Pemkab dengan Kemenag,” terangnya. (ver)

BAGIKAN