PAN : Keserasian Petahana Modal Penting Menangkan Pilgub Lampung

0

KALIANDA – Keserasian dan kekompakan pasangan petahana menjadi salah satu barometer didalan membangun suatu daerah dan sekaligus modal penting untuk meraih dukungan masyarakat dalam memenangkan kontestasi Pilgub Lampung 2018.

Hal ini disampaikan Ketua DPD PAN Lampung Selatan Ahmat Fitoni kepada Radar Lamsel usai acara halal bi halal yang digelar DPW PAN Lampung, Minggu (9/7) kemarin.

Menurut bang Toni, sapaan akrab Ahmat Fitoni, dengan keserasian dan kompaknya pasangan incumbent, maka arah pembangunan, kebijakan dan jalannya pemerintahan akan menjadi stabil. “Dengan begitu mobilisasi sumber daya untuk akselerasi ketiga hal itu (pembangunan, kebijakan dan roda pemerintahan) menjadi lebih mudah,” ungkap bang Toni.

Adik Ketua MPR-RI H. Zulkifli Hasan ini juga memaparkan bahwa keserasian pasangan merupakan modal penting dalam menjaga keutuhan partai politik pendukung pemerintah. Keserasian itu juga menumbuhkan rasa percaya di masyarakat. Sehingga potensi dekonstruksi dan segregasi sosial bisa diminimalisir.

Selain itu, prasyarat munculnya strong goverment juga bisa diwujudkan. “Strong government inilah yang bisa membuat interaksi sosial politik antara massa dengan elit akan terkoneksikan. Ujungnya masyarakat diuntungkan karena paham betul kearah mana kapal pemerintahan ini akan berlayar dan bersandar. Sehingga masyarakat bisa nyaman dan tenang sebagai penumpang kapal. Bukan panik dan disorientasi,” paparnya.

Begitu juga dengan implikasi dari soliditas partai pendukung adalah perannya di legislatif dan fungsi parpol sebagai penghubung antara masyarakat dengan pemerintah. Peran legislatif dalam penganggaran, pengawasan dan pembuatan perda berlangsung lancar dan mudah dalam menyosialisasi ke masyarakat.

Meski demikian bang Toni mengakui bahwa keserasian pasangan incumbent bukan bersifat mutlak untuk memenangkan pilgub Lampung. Contohnya pasangan petahana pada Pilkada DKI Jakarta Ahok – Jarot. Meski memiliki banyak support dan disukai publik namun kalah dalam pilkada.

Menurut bang Toni ada dua hal mendasar yang menyebabkan Ahok – Jarot kalah. Yakni perilaku elit dan pergeseran perilaku pemilih. Hal lainnya Ahok – Jarot bergaya eksklusif layaknya CEO di perusahaan.

Ini yang membuat dukungan bottom up dari relawan teman Ahok dimarginalkan dan diganti dengan dukungan bersifat top down. Berubah menjadi dukungan parpol. Akibatnya relawan teman Ahok pecah dari dalam dan membuat soliditas dukungan berkurang.

Hal ini berbeda dengan Anis – Sandi yang bergaya inklusif mendekat dengan rakyat. Sementara pada konteks perilaku pemilih memang ada kecenderungan bergeser. Rezim politik infrastruktur bergeser ke arah human development. Ahok-Jarot menjawab mimpi pemilih dengan policy infrastruktur dengan sektor transportasi, tata kota melalui ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) dan reklamasi.

Sementara Anis-Sandi menjawab dengan program human development melalui down payment (DP) rumah nol persen dan pelatihan kewirausahaan.

“Ini yang saya perhatikan betul. Saya himbau pasangan incumbent cepat nikah, tidak gampang marah bila diprovokasi, harmonis dan serasi, serta tidak bergaya CEO dan birokratis sentris. Dekati rakyat, perhatikan dengan seksama seperti apa maunya rakyat, jangan meminta rakyat yang datang, tapi datangi rakyat. Saya meyakini bila ini semua di jalankan, pasangan incumbent lebih mudah menang ketimbang pasangan yang baru,” pungkas bang Toni. (red)

Leave A Reply

Copyright © 2017. Radar Lamsel