Pelaku Pelecehan Seksual Beraksi Selama 5 Tahun

420

GEDONGTATAAN – Tersangka pelecehan seksual terhadap 42 siswa SMP dan  SMA di Pulau Legundi, Kecamatan Punduh Pedada,  EO (32) mengaku telah melakukan aksinya sejak lima tahun terakhir. Perilaku menyimpang tersebut dilakukan lantaran hendak mendapatkan kekuatan yang dipelajarinya dari buku-buku spritual.

“Ada dorongan dalam diri saya untuk melakukan itu (maaf, oral seks) setelah membaca buku-buku peramalan,” ungkap EO saat dikonfirmasi usai ekspose kasus pelecehan seksual yang digelar oleh jajaran Polres Pesawaran, Rabu (8/11).

Ditanya apakah dirinya memberikan iming-iming sejumlah uang atau bahkan ancaman kepada siswa-siswa tersebut? Diakuinya sejak pindah dari Ambawara, Kabupaten Pringsewu ke Desa Pulau Legundi pada 2011 silam dan setelah membaca buku peramalan tersebut hasratnya terdorong untuk melakukan hal tersebut.

“Saya juga kurang faham mengapa mereka (siswa) mau. Padahal gak saya kasih uang dan tidak ada ancaman juga,” ucapnya.

Sementara, Kapolres Pesawaran AKBP. M Syarhan mengatakan, awal terungkapnya peristiwa tersebut atas laporan dari salah satu korban berinisial EH ke Mapolres Pesawaran pada 21 Oktober 2017. Dan, berdasar laporan tersebut pihaknya melakukan penyelidikan guna mengungkap kasus tersebut.

“Dari penyidikan, pelaku melakukan aksinya dalam kurun waktu kurang lebih lima tahun. Nah, barang bukti yang berhasil diamankan berupa alas tidur dan pakaian dari korban,” jelasnya.

Ditanya apakah rumah tersangka yang berada di Desa Pulau Legundi tersebut menjadi satu-satunya Tempat Kejadian Perkara (TKP)? Menurut Syarhan, selain aksi tidak terpuji EO dilakukan dalam rumahnya, kebun disekitar pulau tersebut tak luput dijadikan sasaran dari tersangka untuk menjalankan aksinya. Dan akibat perbuatannya tersangka EO dijerat dengan Pasal 82 ayat 2 undang-undang nomor 35/2014 tentang perlindungan anak juncto 65 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

” Selain rumah, ada tempat-tempat tertentu yang juga dijadikan tempat oleh tersangka untuk melakukan aksinya,” ucapnya.

Dikatakan, untuk kondisi korban  sendiri, khususnya 11 anak yang tengah direhabilitasi, saat ini sudah stabil dan dalam pengawasan Polres Pesawaran dan instansi terkait dengan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan provinsi untuk pendampingan psikologis anak-anak tersebut.

“Sementara, 31 anak lainnya yang belum direhab, saat ini sedang dikoordinasikan oleh Ketum LPAI Seto Mulyadi untuk rehab di RPSA pusat. Mengingat kalau direhab di luar Lampung, anak-anak ini masih ada kegiatan sekolah,” ujarnya.

Sementara, disinggung apakah akibat perbuatan tersangka tersebut membuat korban ketergantungan? Diakui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Pesawaran Ipda. Heni Gustiana,  bahwa sekitar 11 anak yang mengalami ketergantungan yang saat ini tengah mendapat pembinaan di trauma center.

“Ada yang ketergantungan semacam hasrat ingin di oral. Dan saat ini selama 20 hari mereka mendapat pembinaan di trauma center,” singkat Heni.

Diketahui, berdasar interaksi yang dilakukan oleh Ketum LPAI Pusat Seto Mulyadi terhadap korban di Desa Legundi saat ditanya hukuman apa yang paling tepat diterapkan bagi tersangka. Secara spontan para korban menjawab hukuman mati. Namun Kak Seto meminta agar para korban tetap semangat dan percaya diri.

Selanjutnya, dalam komunikasi interaktif yang juga turut didampingi orang tua korban ternyata bertolak belakang terhadap pengakuan tersangka. Dimana korban mengaku mendapat ancaman dari tersangka.

“Adek-adek jangan takut melapor jika mendapat perlakuan tidak senonoh. Pada saat adek-adek diperlakukan tidak baik oleh oknum guru ini ada yang langsung melapor tidak?,” tanya Kak Seto saat dialog di Legundi Selasa (07/10).

Sejumlah siswa mengaku takut melaporkan pristiwa tersebut lantaran mendapat ancaman dari tersangka untuk tidak bilang dengan siapa-siapa. Jika melapor akan berdampak terhadap nilai pelajaran oknum guru yang mengajar bidang olah raga.

” Suara anak harus didengar, kami dari LPAI percaya adek-adek mempunyai masa depan yang cerah dan jangan putus asa. Tetap semangat meraih cita-cita,”tutupnya.

Sedangkan salah satu korban mengaku sangat bangga atas kunjungan Kak Seto. Dimana dengan kunjungannya tersebut memberikan semangat baru untuk bangkit dari peristiwa yang mereka alami

“Ya senang dikunjungi Kak Seto dan kami bangga dan menjadi semangat. Agar kita bangkit dan bisa move on dari permasalahan yang kami hadapi ini,” pungkasnya. (Acp)

 

BAGIKAN