Perjuangan 11 jam Menahan Sakit Dari Sebesi ke Kalianda Demi si Buah Hati

1401

Cahya dan Selvia Rumi sempat panik saat di pengungsian, mereka mengkhawatirkan kondisi kandungannya yang berusia 9 bulan. Selama 11 jam, Selvia menahan sakit hingga tiba waktu kelahiran putrinya di rumah sakit Bob Bazar Kalianda. Bagaimana ceritanya?

Laporan Randi Pratama, KALIANDA.

Wajah Cahya (25) dan Selvia Rumi (20) nampak semringah. Senyum bahagia pasang suami istri ini terpancar setelah buah hati mereka lahir dengan selamat di rumah sakit Bob Bazar Kalianda, sekitar pukul 10.00 WIB, Selasa (25/12/2018).

Perjuangan pasangan muda ini untuk melahirkan di rumah sakit Bob Bazar Kalianda tidaklah mudah. Selvia Rumi harus menahan sakit selama 11 jam demi melihat buah hatinya lahir ke dunia.

Perjuangan Selvia Rumi dan Cahya dimulai sejak Senin (24/12/2018). Saat itu, mereka berdua sedang berada di pengungsian di Desa Tejang Pulau Sebesi. Di tengah pengungsian sekitar pukul 21.00 WIB, Selvia Rumi merasakan sakit di bagian perutnya. Wajar saja, karena usai kehamilannya sudah memasuki umur 9 bulan.

BACA :  Dorongan Akar Rumput, Ketua KTNA Lamsel Panaskan Bursa Balonwabup

Dalam suasana yang tak karuan dan di tengah sesaknya orang-orang di pengungsian, Selvia Rumi berjuang menahan sakit. Cahya yang berada disampingnya ikut panik.

“Panik, mas. Benar-benar panik, saya sudah pasrah,” kata Cahya kepada radarlamsel.com saat ditemui di rumah sakit Bob Bazar Kalianda.

Sama halnya dengan Selvia Rumi, ia juga mengaku tak bisa berbuat apa-apa selain menahan sakit. Selvia mengaku tak ikut panik sehingga bisa mengontrol kondisinya.

“Alhamdulillah, saya enggak terlalu panik, mas. Jadi semuanya bisa kekontrol, saya cuma gak tahan sama rasa sakitnya,” ucapnya.

Perjuangan Selvia Rumi akhirnya terbayar lunas setelah ia dievakuasi ke Pelabuhan PT. BBJ di Kecamatan Bakauheni. Dari sini, Selvia bersama Cahya, dan Mariah (45) ibundanya langsung menuju rumah sakit Bob Bazar Kalianda. Sekitar pukul 10.00 WIB, Selvia melahirkan dengan normal. Bayi perempuan dengan berat 2,9 kilogram nampak sehat.

“Saya senang sekali, mas. Alhamdulillah perjuangan saya selama 11 jam terbayar. Bayi saya sehat, proses bersalin berjalan normal,” ucapnya.

BACA :  Anggapan Cacat Prosedur sulut KTNA Lamsel

Cahya juga merasakan senang melihat buah hatinya terlahir di dunia dengan keadaan sehat. “Ini anak pertama kami,” katanya.

Sebelum kelahiran cucu ketuanya itu, Mariah, ibunda Selvia Rumi, mengaku sempat khawatir. Mariah mengatakan bahwa ia sempat terkesima melihat anak keduanya itu merintih kesakitan.

“Saya sempat mikir, bingung juga. Gimana nih lagi ngungsi, semuanya gak ada. Sempat nyuruh cari dokter. Yang ada bidan, tapi bidannya ikut ngungsi juga gak tau ke mana,” ucapnya.

Saat ini, Cahya dan Selvia Rumi masih bingung menentukan nama untuk buah hari pertama mereka itu. Cahya mengaku sempat menerima saran soal pemberian nama. Tetapi mereka berdua masih berpikir.

“Kalau saran sudah ada, bahkan ada yang mau ngasih nama Tsunamiwati. Tapi sekarang masih pikir-pikir,” katanya.

Mengenai bencana tsunami yang menerjang desanya, Cahya mengatakan ombak besar hanya menghantam bagian depan rumahnya.

“Alhamdulillah, rumah aman, cuma depannya aja yang sedikit rusak,” katanya. (rnd)

BAGIKAN