Petambak Tradisional Berguguran

11
Kepala Dinas Perikanan Dr. Meizar Malanesia

KALIANDA – Aktifitas petambak udang tradisional di wilayah Kabupaten Lampung Selatan nyaris lumpuh pasca musim kemarau panjang yang terjadi saat ini. Bahkan, dipastikan 40 persen tambak tidak beroperasi karena tak ada pasokan air untuk memenuhi kolam pembesaran para petani tambak.

          Dari data yang dimiliki Dinas Perikanan Kabupaten Lampung Selatan, setidaknya terdapat 2.595 hektar luas bersih kolam petambak tradisional yang menjadi sentral atau kawasan budidaya udang. Sebarannya berada di Kecamatan Ketapang 1.500 hektare, 1.045 hektare di Kecamatan Sragi dan 50 hektare di Kecamatan Bakauheni.

          Khusus untuk jenis tambak tradisional, dipastikan 40 persen dari luas kolam petambak itu tidak produksi atau distop. Minimnya pasokan air di musim kemarau panjang ini menjadi penyebab utama para petambak memilih berhenti melakukan aktifitasnya.

BACA :  Pimpinan Definitif DPRD Lamsel Resmi Dilantik

          “Ini berdasarkan laporan sementara yang kami terima dari petugas di lapangan. Tapi, tidak menutup kemungkinan bakal terus bertambah jika dalam waktu dekat tidak turun hujan,” ungkap Kepala Dinas Perikanan Dr. Meizar Malanesia kepada Radar Lamsel, kemarin.

          Menurutnya, menghentikan aktifitas adalah langkah yang sangat tepat dilakukan dalam kondisi cuaca saat ini. Sebab, jika nekat beroperasi resiko merugi sudah pasti dialami para pengusaha tambak.

          “Bisa dikatakan resikonya lebih besar rugi ketimbang untungnya. Sudah banyak petambak yang datang mengeluh karena gagal panen akibat minimnya pasokan air. Disamping itu, hama atau penyakit di musim kemarau ini juga rentan terjadi pada udang yang mereka pelihara. Jadi saya imbau lebih baik beristirahat sampai kondisi alam normal,” tegasnya.

BACA :  Bidan TKS Minta Diangkat THLS

          Lebih jauh dia mengatakan, pada masa non-reproduksi petambak diminta untuk melakukan maintenance kolam dan peralatan produksi. Hal itu lebih baik supaya pada saat memasuki produksi lebih siap dan mendapatkan hasil yang maksimal.

          “Petambak bisa membersihkan saluran in-let dan out-let yang menjadi jalan keluar masuk air ke kolam pembesaran. Supaya hama atau kuman tidak bersarang di saluran air kolam mereka selama musim kemarau panjang. Dengan demikian panen yang dihasilkan pada produksi berikutnya akan maksimal,” pungkasnya. (idh)

BAGIKAN