Petani Coklat Keluhkan Serangan Penyakit dan Penurunan Harga

137

PENENGAHAN – Petani coklat di Desa Padan, Kecamatan Penengahan mengeluhkan kondisi buah coklat yang terserang penyakit. Akibatnya, petani mengalami kesulitan dalam menjual coklat yang terserang penyakit kepada pengepul.

Selain masalah penyakit, petani juga mengeluhkan harga jual coklat yang terus mengalami penurunan. Sekarang ini, harga cokelat kering berkisar diangka Rp 16 ribu – Rp 17 ribu. Sementara harga cokelat yang kering bertengger diangka Rp 13 ribu – Rp 14 ribu.

Harga jual coklat sekarang mengalami penurunan harga hampir 25 persen. Karena sebelumnya harga normal cokelat kering mencapai Rp 24 ribu – Rp 25 ribu. Sedangkan untuk harga agak kering dijual dengan harga Rp 18 ribu – Rp 19 ribu.

Masalah penyakit dan persoalan harga membuat petani coklat takbisa mendapat hasil buah yang maksimal. Demi menghindari kerugian, petani coklat lebih memilih menjual dengan kondisi agak kering.

BACA :  Diduga Hendak Mencuri, Warga Lamtim Dihajar Massa

“Kami lebih memilih menjual yang agak kering. Jika dijual dengan kondisi kering, kami akan mengalami kerugian karena biaya operasional yang besar,” kata Yores (28) kepada Radar Lamsel, Senin (5/11).

Jika dijual dengan kondisi kering, selain mengalami kerugian karena harga, petani juga akan rugi karena timbangan akan jauh berkurang. Hal ini disebabkan karena serangan penyakit yang menyerang buah coklat tersebut.

“Isi di dalam buahnya tidak ada, kempes. Penyakit ini yang menjadi pemicu turunnya timbangan. Kalau kondisinya normal, jual kering lebih menguntungkan,” katanya.

Langga (29), petani coklat lainnya mengamini jika kondisi buah coklat sekarang tak sebagus sebelumnya. Dia mengatakan, kondisi penyakit yang menyerang buah coklat sudah terjadi sejak 3 tahun belakangan.

BACA :  Beras PALAS Menghilang

“Sejak terserang penyakit, kami lebih banyak menjual coklat dengan kondisi yang agak kering. Nah, keuntungan yang kami dapat bisa 50 persen lebih. Jika dijual kering, petani hanya akan mendapat keuntungan sebesar 40 persen,” katanya.

Dia melanjutkan, petani coklat juga sudah melakukan berbagai upaya untuk memberantas penyakit tersebut, salah satunya dengan melakukan penyemprotan hama. Namun usaha yang dilakukan sia-sia.

“Sudah disemprot pakai racun pemberantas hama, tapi sampai sekarang masih. Sekarang kami masih mencari solusi agar penyakit tersebut tak lagi menyerang buah cokelat. Selain itu, kami juga berharap harga cokelat kembali normal supaya kami tak terlalu merugi,” katanya. (rnd)

BAGIKAN