Petani Sinarpasemah Berharap Tanggul Segera Diperbaiki

642
Veridial – Inilah lokasi tanggul yang jebol di Desa Sinarpasemah Kecamatan Candipuro. Hingga saat ini masih belum diperbaiki. Petani khawatir curah hujan tinggi dapat menyebabkan banjir kembali merendam sawah mereka.

CANDIPURO – Pemerintah Desa Sinarpasemah berharap Pemkab Lampung Selatan dapat memprioritaskan pembangunan tanggul penahan sungai Waykatibung yang jebol tiga bulan lalu.
Desa berharap perbaikan tanggul itu dapat dimasukan dalam rencana pembangunan tahun ini yang masuk dalam APBD Perubahan tahun 2016.
Harapan itu diungkapkan Kepala Desa Sinarpasemah Puji Purwantoro kepada Radar Lamsel, Rabu (8/6). Dia mengungkapkan pemerintah desa telah mengusulkan perbaikan tanggul. Informasi yang diterimanya perbaikan tanggul menunggu APBD Perubahan tahun 2016. “Harapan kami benar-benar masuk. Supaya bisa cepat diperbaiki,” ungkap dia.
Sementara itu, petani Sinarpasemah masih dikhawatirkan oleh banjir akibat jebolnya tanggul. Kekhawatiran itu diungkapkan Sunarto (40) petani asal Desa Sinarpasemah yang mengaku pernah gagal panen akibat banjir tiga bulan lalu.
Menurut dia, tanggul yang jebol tersebut masih menjadi ancaman bagi petani Sinarpasemah. Jika tidak diperbaiki ratusan hektar lahan padi akan kembali terendam banjir. “Jika tidak kunjung diperbaiki, curah hujan yang tinggi akan menyebabkan banjir kembali melanda,” ungkapnya.
Dijelaskannya, sekitar 300 hektar lahan milik petani yang terendam banjir saat itu semuanya gagal panen dan tidak sesuai perencanaan. “Pada saat itu padi memang kurang bagus, ditambah terendam banjir memperburuk hasil panen,” katanya lagi.
Hal senada juga diungkapkan Ginanjar (35). Petani Sinarpasemah ini juga mengharapkan perbaikan tanggul harus segera dilakukan jika ingin hasil pertanian di Sinarpasemah kembali stabil. Jika tidak, meskipun pemerintah mendorong percepatan tanam, hasilnya nanti akan sia-sia. “Antisipasi kan lebih baik mas, ketimbang para petani dihantui banjir,” kata dia.
Menurutnya tanggul yang berada diwilayah Lamsel tersebut merupakan langganan banjir. Kondisi wilayah yang menjadi aliran sungai yang berbelok menyebabkan tanggul tidak sanggup menahan volome air yang datang.
Berbeda halnya dengan tanggul yang berada di Lamtim, bangunannya kokoh dan permanen. “Di wilayah Lamtim, petani tidak terlalu khawatir karena tanggulnya kokoh,” imbuhnya. (ver)

BACA :  Korban Konflik Agraria Jalan Kaki ke Istana