Produksi Pupuk Organik Terganjal Pemasaran

13
Randi Pratama – Beginilah proses produksi pupuk organik di TPS 3R Desa Pisang yang menggunakan komposisi dedaunan. Foto dibidik Kamis (3/10/2019).

PENENGAHAN – Pemerintah Desa Pisang terus memanfaatkan tempat pengolahan sampah reuse, reduce, recycle (TPS 3R) untuk memproduksi pupuk organik. Pupuk ini dibuat dari bahan-bahan organik dari berbagai macam dedaunan. Kualitas pupuk ini pun diklaim memiliki kualitas yang cukup bagus.

          Namun sayang, upaya pengolahan pupuk organik ini belum sebanding dengan pendapatan yang dihasilkan. Pemerintah Desa Pisang belum bisa memaksimalkan pendapatan karena mengalami kesulitan pemasaran. Sejauh ini, pemesan pupuk organik dari program TPS 3R ini baru menyentuh petani lokal.

          “Setiap ada bahan langsung diproduksi. Tapi kami kesulitan di pemasaran pupuknya,” kata Kepala Desa Pisang, Sahril Gani, kepada Radar Lamsel, Kamis (3/10/2019).

BACA :  Jaga Kesuburan Tanah Dengan Arang Sekam

          Pembelian pun tak seberapa. Kebanyakan pembeli hanya mengambil seadanya untuk keperluan memupuk tanaman hias. Bukan pembeli berstatus agen yang membeli dengan jumlah besar utuk keperluan tanaman pertanian. Kondisi ini masih disiasati oleh pemerintah desa agar pupuk organik itu bisa dipasarkan ke luar.

          “Sebetulnya tinggal pemasaran saja, ini yang harus kami fokuskan. Bagaimana caranya pupuk ini bisa menyentuh pasar,” katanya.

          Sekretaris Desa Pisang, Rino Rastika, mengamini jika pihaknya kesulitan memasarkan produk pupuk tersebut. Meski hasil produksi tak sesuai dengan pendapatan, kata Rino, pihaknya tetap melanjutkan produksi untuk melanjutkan program dari PSPLP Pemerintah Provinsi Lampung itu.

BACA :  Waspadai ISPA saat Cuaca Panas

          “Baru lokal desa-desa saja. Itu pun ngambilnya sedikit untuk tanaman-tanaman bunga. Kalau dihitung memang tidak sesuai, tapi produksi tetap kita jalankan,” kata

          Rino melanjutkan, saat ini TPS 3R mampu memproduksi pupuk organik 1,5 kwintal per bulannya. Tetapi jumlah tersebut bisa saja ditambah jika pemasaran sudah menyentuh pasar. Sejatinya, permintaan pupuk dengan jumlah besar sudah diakomodir oleh Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim) Lampung Selatan.

          “Kalau tidak salah 1 ton lebih. Tapi tahun 2020 nanti. Tapi saat ini yang kami pikirkan adalah rencana dalam waktu dekat, bagaimana pupuk ini bisa dipasarkan sesegara mungkin,” katanya. (rnd)

BAGIKAN