Program dan Aset Milyaran Terbengkalai

885
Nyoman Subagio – Jembatan timbangan dan terminal Agribisnis di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan saat ini tidak berfungsi.

Era Sjachroedin Terminal Agribisnis, Era Ridho Ficardo Jembatan Timbangan

Pembangunan terminal Agribisnis di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan diharapkan menjadi pusat pemasaran pertanian untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Bahkan, bisa memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, khususnya dibidang agribisnis hortikultura.

Laporan NYOMAN SUBAGIO, PENENGAHAN

BEDA pemimpin, beda program kerja. Ya, itulah yang diamati Radar Lamsel terkait pembangunan terminal Agribisnis di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Pembangunan terminal Agribisnis dilokasi eks. Jembatan Timbangan dipinggir jalan lintas sumatera (Jalinsum) itu diera kepemimpinan Gubernur Lampung  Sjachroedin Z.P tahun 2013 silam.

Namun seiring berakhirnya masa kepemimpinan Sjachroedin Z.P tahun 2014,  program terminal Agribisnis nyaris tak ada kegiatan apapun. Sejumlah petugas Satpol PP yang ditempatkan di terminal Agribisnis untuk pengamanan pun ditarik pemerintah provinsi.

Program yang digadang-gadang untuk menopang perekonomian masyarakat petani khususnya Kabupaten Lampung Selatan yang merupakan sentra pertanian dan hortikultra serta peternakan seolah tenggelam.

Selanjutnya, pembangunan terminal Agribisnis diharapkan menjadi pusat pemasaran hasil pertanian sekaligus sebagai pusat distribusi regional dalam mendukung sistem logistik nasional dan diharapkan bisa memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, khususnya di bidang agribisnis holtikultura pun hanya angan-angan belaka.

Diera kepemimpinan Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo, terminal Agribisnis tak ada tindaklanjut. Bahkan Gubernur termuda di Indonesia itu mengembalikan status bangunan itu kembali ke Jembatan Timbangan untuk mengecek dan mengukur tonase kendaraan truk yang bermuatan lebih.

BACA :  Sinergitas, Satlantas Polres Lamsel Bagikan Smart SIM Gratis untuk Anggota TNI

Jembatan timbangan di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan itu dikelola unit pelaksana penimbangan kendaraan bermotor (UPPKB) Dinas Perhubungan Provinsi Lampung dengan memasang baliho besar bertuliskan “Selamat Datang di UPPKB Penengahan” dengan slogan “Mengangkut Barang Sesuai Dengan Daya Angkut Kendaraan Berarti Anda Ikut Menjaga Jalan dan Keselamatan Berkendaraan”

Jembatan timbangan itu beroperasi sekitar lima bulan lamanya tahun 2016 lalu. Aktivitas jembatan timbangan berjalan dengan melibatkan masyarakat sekitar dan mendapat mengamanan langsung dari petugas Kepolisian dan TNI.

Namun seiring program baru yang diluncurkan pemerintah pusat diera kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yakni memberantas segala bentuk pungutan liar (Pungli), operasional jembatan timbangan UPPKB Penengahan pun di tutup. Sejak ditutupnya operasional jembatan timbangan itu, kini lokasi itu sepi aktivitas. Bahkan kini sekitar bangunan ditumbuhi rumput liar dan dijadikan tempat mengembala ternak.

Sungguh sangat disayangkan aset milik Pemerintah Provinsi Lampung itu terkesan terbengkalai. Padahal pembangunan aset dan program-program yang dikucurkan pemerintah sudah menelan dana yang tidak sedikit itu terkesan disia-siakan.

Sejumlah masyarakat sangat menyayangkan itu. Pemerintah yang sudah menggelontorkan dana Milyaran itu terkesan mubazir. Masyarakat mengharapkan program-program yang sudah pernah berjalan ditindaklanjuti untuk kepentingan masyarakat terutama petani di Lampung Selatan.

Kepala Desa Karangsari, Kecamatan Ketapang Sulistiono misalnya. Dia berharap program-program yang sempat berhenti dilanjutkan untuk mendukung perekonomian masyarakat Kabupaten Lampung Selatan khususnya warga sekitar lokasi terminal Agribisnis di Kecamatan Penengahan.

BACA :  Pandu Hangatkan Bursa Balonwabup

“Sangat disayangkan pemerintah sudah mengeluarkan dana yang cukup besar tapi program berhenti dan aset pemerintah terbengkalai. Padahal keberadaan terminal Agribisnis akan membantu masyarakat petani di Lamsel untuk menjual produk-produk hasil buminya. Lampung Selatan khususunya Kecamatan Ketapang dan Penengahan merupakan sentra pertanian dan hortikultura. Petani bisa memanfaatkan terminal Agribisnis itu untuk menjual langsung hasil buminya daripada lari ke para tekulak,” tutur Sulistiono, kemarin.

Berbeda yang diungkapkan Deni Yusuf (30) warga Desa Penengahan, Kecamatan Penengahan. Menurutnya, apapun program kegiatan yang dilaksanakan di eks. Jembatan Timbangan di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan itu harus memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah.

“Terminal Agribisnis bisa menampung semua hasil pertanian. Sedangkan jembatan timbangan menjaga ketahanan jalan karena kendaraan truk yang bertonase lebih bisa dipantau. Tapi dengan catatan, aturan benar-benar dijalankan. Jika kendaraan melebih tonase barang yang diangkut harus dibongkar sehingga ketahanan jalan tetap terawat dan mencegah terjadinya kecelakaan lalulintas akibat kelebihan muatan,” tutur Deni.

Disamping itu, operasional jembatan timbangan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar karena ikut membantu dan mengurus kendaraan truk yang akan masuk ke jembatan timbangan. “Apapun program yang dilaksanakan pemerintah di eks. Jembatan Timbangan di Penengahan diharapkan mampu menyerap tenaga kerja sehingga mengurangi penangguran,” ujarnya.(bersambung)

BAGIKAN