Resah Modernisasi dan Globalisasi

698

MODERNISASI zaman tak dipungkiri menggerus budaya daerah. Kondisi ini belum ditambah era globalisasi yang juga ikut mempengaruhi budaya-budaya daerah dengan pengaruh budaya asing.

Ancaman akan pudarnya budaya lokal terus mengintai sepanjang generasi muda tak kuat untuk menjaga dan melestarikan budaya daerah yang dimiliki.

Sebelum keadaan ini semakin parah maka perlu dilakukan revitalisasi budaya secara menyeluruh. Mulai dari melakukan berbagai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan daerah, pengaktifan sanggar-sanggar seni budaya hingga pendidikan budaya yang masuk dalam pendidikan non formal.

Demikian diungkapkan Dona Permata Sari kepada Radar Lamsel di Desa Babulang kemarin. Dia justru mengaku resah dengan era modernisasi dan globalisasi tersebut. Terlebih dara kelahiran Pesawaran 27 September 1997 yang tinggal di Desa Babulang Kecamatan Kalianda ini sudah merasakan budaya-budaya di tempat tinggalnya sudah jarang terlihat.

Menurutnya pertujukan seni budaya daerah seperti tarian tradisonal Lampung itu dapat disaksikan hanya disaat acara-acara tertentu saja. “Semestinya geliat kesenian daerah ini bisa terus dibangkitkan. Ini tentunya butuh perhatian dari pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lamsel,” ujar Dona.

Perempuan berjilbab yang bekerja sebagai staff di Kantor Desa Babulang, Kecamatan Kalianda ini berharap, kegiatan dewan kesenian Lamsel yang sudah vakum bertahun-tahun lamanya, itu semsestinya dapat digerakkan lagi.

“Keberadaan dewan kesenian ini sangat penting. Karena bisa dijadikan wadah sebagai tempat bernaungnya para pekerja seni atau seniman-seniman Lamsel untuk berekspresi dibidang seni yang bisa membantu pemerintah daerah membangun dunia kesenian daerah,” harapnya.

Diungkapkannya, di Kabupaten Lamsel terdapat sejumlah tempat-tempat objek wisata yang dapat diisi dengan berbagai kegiatan kesenian. Artinya ini dapat menjadi peluang untuk para seniman tampil di sana.

“Salah satu penunjang maju dan berkembangnya suatu daerah adalah tumbuh suburnya seni dan kebudayaan yang dimiliki. Jika tidak ada wadah untuk menaunginya, saya yakin kegiatan kesenian itu akan muncul dengan sendirinya tanpa program yang terarah. Maka dibutuhkan adanya dewan kesenian ini,” ungkapnya.

Dona pun berharap, pemerintah daerah bisa membangun satu tempat untuk dijadikan sarana bagi para generasi muda dalam mengembangkan kreatifitas berkeseniannya.

“Bagusnya sih sarana latihan tersebut dibangun di lokasi atau area terbuka. Misalnya seperti taman kota lah. Biar saat para seniman latihan bisa menjadi sarana hiburan bagi pengunjung taman kota tersebut,” harapnya. (iwn)

BAGIKAN