Sudahkah Kita Memaknai Kesejatian Para Pahlawan?

631
Dewan Kehormatan PWI Perwakilan Lampung Selatan H. Rudi Apriadi

Oleh : H. Rudi Apriadi KM
(Dewan Kehormatan PWI Perwakilan Lampung Selatan)

KEMARIN, 10 November 2015, seluruh sudut belahan bumi nusantara menggelar seremoni hari pahlawan dengan gegap gempita. Kerapkali upacara tahunan itu dirangkai dengan berbagai kegiatan penunjangnya. Hari pahlawan itu sendiri menjadi tonggak dan peringatan episode kenangan napak tilas pertempuran di Surabaya dengan tokoh sentral bung Tomo yg ber-orasi dengan kilatan api legenda dan mengkristal hidup atau mati, Allah hu Akbar, Allah hu Akbar.
Kini dalam konteks era dekadensi dan degradasi memaknai kepahlawanan banyak hal yang mesti kita benahi dan pertanyakan, terutama pada diri kita sendiri. “Sudahkah kita memaknai kesejatian para pahlawan,”. Tentu kita sendiri yang harus mampu untuk jujur menjawabnya. Mungkin kita masih bisa mengelabui sepuluh, seratus, bahkan seribu orang. Tapi bagaimana kita membohongi hati, raga, dan sikap kita sendiri.
Pada masa abad kini tentu sulit bahkan mungkin hampir mustahil dan takkan ada lagi pahlawan yang lahir dari pertempuran melawan penjajah. Jika pun ada tentu pahlawan yang muncul melawan kesewenang-wenangan, dan berperang melawan penjajahan ekonomi, budaya, alam, serta hak asasi manusia.
Merujuk pada rangkaian peristiwa heroik kepahlawanan secara nasional, bagaimana di negeri ujung sumatera ini?
Tak kalah hebat, pertempuran pasukan rakyat membela serambi sumatera ini pun menggelegar demi mempertahankan kemerdekaan. Bahkan pasukan rakyat yang dikomandoi Letnan Muda (kala itu) Makmun Rasyid mampu memukul mundur penjajah belanda yang membonceng NICA dan menguasai kembali Kalianda selama enam jam (yang dikenal dengan pertempuran enam jam) dan untuk kali pertama bisa mengibarkan sang saka merah putih di daerah Kalianda Bawah dengan kawalan bambu runcing, bedil locok, dan senjata ala kadarnya. Meski hanya enam jam namun mampu membuka mata diplomasi dunia jika perjuangan rakyat di Kalianda saat itu masih ada.
Memaknai etos perjuangan kepahlawanan tersebut, bagaimana kita melihat dan menghargai dimensi pejuang-pejuang yang bernuansa pahlawan itu pada masa sekarang.
Jujur saya sering membatin dalam hati. Mana kala setiap ba’da Shalat Subuh saya berolahraga di seputaran Kota Kalianda tercinta. Seolah tak mau didahului ayam berkokok sejumlah perempuan setengah baya telah sibuk membersihkan sampah yang berserak disudut-sudut jalan protokol kota Ragom Mufakat ini. Dengan berseragam kuning mereka tulus ikhlas bekerja membersihkan kota. Meskipun setahu saya penghasilan mereka masih teramat jauh dari upah kelayakan, namun mereka tetap menebar senyum. Saya berfikir merekalah pahlawan pahlawan abad kini di serambi sumatera ini. Setidaknya mereka telah menasbihkan Kalianda menjadi kota yang sempat berpredikat kota bersih, terlebih lagi dalam penegakan syariat Islam jika kebersihan merupakan sebagian dari iman. Bagi saya mereka adalah pahlawan sejati.
Sedikit meneladani sikap pemimpin sekaliber Amirul Mukminin khalifah Umar bin Khattab. Dia pernah menegur keras dan memecat staf ke khalifahan-nya, hanya karena memberikan daging dan hati unta terbaik untuk makan siangnya, sementara bagian lainnya diberikan pada ummatnya.
Umar marah besar karena dia di istimewakan lebih dari kaum muslimin lainnya. Khawatir akan dosa tersebut Umar menebus kesalahan anak buahnya itu dengan hanya makan beberapa biji kurma dan minyak zaitun selama berbulan bulan. Hingga wajahnya tampak pucat dan badannya lemah. Sampai dia meyakini jika Allah telah mengampuni dosanya itu, Subhanallah.
Kini tentu mustahil setiap kita memiliki jiwa kepemimpinan seperti Umar. Namun teladan baik sang khalifah semoga bisa menginspirasi kita di setiap aspek kehidupan sosial kemasyarakatan.
Tepat hari ini 10 November manakala kita memperingati hari pahlawan di seantero jagad nusantara mari kita instrospeksi diri kita sendiri untuk memaknai, menghargai, meneladani sikap kepahlawanan di antara kita. Agar momentum hari pahlawan tak berlalu sebagai even seremonial belaka.
Setidaknya jadilah pahlawan bagi keluarga dan lingkungan terkecil di sekitar kita. Agar kita tak mendapat stempel pahlawan kesiangan, Semoga.(*)

BACA :  Urban Ethnic di Akhir Pekan
BAGIKAN