Sumber Daya Jadi Magnet Pengunjung ke Homestay

101
Randi Pratama – Arif Nugroho, narasumber pelatihan homestay, memaparkan materi mengenai sumber daya di hadapan para peserta, Senin (25/11/2019).

RAJABASA – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Selatan terus menggenjot sumberdaya manusia kelompok sadar wisata (pokdarwis). Kali ini, anggota pokdarwis dari seluruh kecamatan mengikuti pelatihan manajemen homestay/pondok penginapan di meeting room Kahai Beach Hotel, Senin (25/11/2019).

Sebanyak 40 peserta yang ikut serta akan menjalani pelatihan selama 3 hari. Usai pelatihan, peserta akan diberi sertifikat resmi pengelola homestay. Tiap harinya, peserta akan dibekali materi selama 4-8 jam. Semuanya ada 3 materi, pertama tentang tata kelola homestay secara umum. Berikut dengan manajemennya.

Materi ini juga berisi penjelasan bagaimana mengelola homestay yang sesuai menurut aturan pemerintah. Masuk materi kedua, peserta akan diberi bekal mengenai pengelolaan sampah rumah tangga. Materi terakhir tentang potensi wisata melalui sumber daya yang mampu menyedot perhatian sehingga mengajak wisatawan berkunjung.

Kepala Bidang Pengembangan Promosi Disparbud Provinsi Lampung, Arif Nugroho, S.E.,M.Si selaku narasumber pelatihan, mengatakan wisata yang mampu menyedot pengunjung di homestay/penginapan berbasis dari keunikan sumber daya alam di desa itu sendiri. Dengan menyajikan wisata tersebut, lanjut Arif, pengunjung bisa menikmati waktunya. “Sebisa mungkin, pengunjung akan bermalam,” katanya.

BACA :  Hadapi OPT, Petani Wajib Terapkan 6T

Hal lain yang bisa dilakukan yaitu memunculkan potensi wisata berbasis sumber daya budaya. Di sini, pengelola harus menyediakan sajian kepada pengunjung. Sumber daya budaya yang dimaksud Arif adalah wisata yang memiliki nilai tinggi seperti sejarah. Yang menampilkan kesenian di waktu tertentu.

Setelah itu, pengelola harus mampu menjelaskan penampilan apa saja yang disajikan dalam wisata tersebut. Menurut Arif, hal semacam ini perlu diperhatikan. Sebab, kelemahan wisata di desa selama ini adalah sejarahnya. Jika sebuah desa memiliki wisata sumber daya budaya, Arif meyakini hal itu akan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan wisata.

“Kelemahan wisata kita adalah story telling kepada tamu, atau pengunjung. Padahal story telling sangat memengaruhi kekuatan pemasaran homestay. Dengan begitu, pengunjung bisa menikmati 1 hari cerita bersama desa itu. Misalnya ada pentas tari tuping, kita berita tahu cerita awalnya. Mulai dari cara pembuatan dan seterusnya,” katanya.

BACA :  Hadapi OPT, Petani Wajib Terapkan 6T

Kabid Pengembangan Disparbud Lamsel, Syaifudin, mengatakan homestay identik dengan rumah warga yang dijadikan tempat penginapan. Pria yang akrab disapa Aep ini menyebut jika homestay/penginapan tidak perlu bagus dan mewah, tetapi lebih mementingkan kebersihan dan kenyamanan. “Karena pariwisata berkomitmen menjaga dan melestarikan lingkungan,” katanya.

Sekcam Rajabasa, Komarudin, mengatakan Pemerintah Kecamatan Rajabsa sangat mendukung pelatihan yang digagas oleh Disparbud Lamsel. Komar menyebut pelatihan ini mempunyai pandangan yang sama terhadap manajemen wisata. Tak hanya itu, Komar menganggap sertifikat yang diberikan oleh Disparbud Lamsel juga bisa dimanfaatkan anggota pokdarwis.

“(Sertifikat) itu bisa jadi nilai lebih. Dan menjadi bukti kalau pengelola wisata atau homestay ini profesional,” katanya.

Disparbud Lamsel telah berkomitmen mengurangi sampah dalam kegiatan yang diselenggarakan. Instansi yang menaungi pariwisata ini memberi tumbler kepada peserta sebagai kampanye pengurangan pemakaian plastik. (rnd)