Tanam Kaji Terap Jejer Tingkatkan Hasil Produksi Padi

475
GEDONGTATAAN – Sistem tanam kaji terap jejer legowo super dan jejer manten super yang dikembangkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung terbukti mampu meningkatkan hasil produksi padi mencapi 30 persen. Hal ini diketahui berdasarkan hasil ubinan kegiatan kaji terap teknologi padi musim gadu 2018 yang telah dilaksanakan di Kecamatan Gedong Tataan dan Tegineneng.
Dimana menurut, Kepala BPTP Lampung, Arivin Rivaie melalui petugas lapangan, Robert Asnawi bahwa dalam kegiatan kaji terap teknologi padi yang telah dilaksanakan pada Juni hingga September 2018 tersebut menggunakan varietas pada yang di uji dengan jenis Inpari 42 dan Inpari 43 yang menggunakan sistem tanam jejer manten super, jajar legowo super manual dan jajar legowo super transplanter (mesin) pada total luas areal 8 hektare di Desa Waylayap, Gedongtataan dan 2 hektare di Desa Rejo Agung, Tegineneg.

“Tapi kelompok-kelompok tani lain sudah banyak yang menggunakan sistem tersebut, namun belum terdetek dengan kita. Sistem ini mampu meningkatkan hasil produksi mencapai 30 persen atau 9 ton lebih per hektarnya dibandingan jenis biasa yang hanya mencapai 6 hingga 7 ton,” ujar Robert usai menggelar acara temu lapang di Desa Waylayap, Gedongtataan, Selasa (16/10).

BACA :  Hampir Separuh Agen e-Waroeng di Pesawaran Belum Miliki Mesin EDC

Sedangkan untuk hasil ubinan menggunakan padi varietas inpari 43 yang telah dilaksanakan di Kecamatan Gedongtataan dengan menggunakan teknologi sistem tanam jejer manten super mencapai 8,996 ton setiap hektarnya. Kemudian untuk teknologi siatem tanam jarwo super manual mencapai 7,788 ton dan untuk teknologi sistem tanam jarwo super mesin mencapai 7,344 ton per hektare.

“Hasil jejer manten meningkat 15,5 persen dari jarwo super manual dan jarwo super manual meningkat 22,5 persen dari jarwo super mesin. Sebab, hasil panen petani musim gadu yang biasa dilakukan petani dengan sistem tanam jajar tegel adalah 4,8 ton per hektare dan artinya melalui penerapan sistem tanam jejer manten mampu meningkatkan produktivitas sebesar 87,4 persen,” jelasnya.

Sedangkan untuk hasil panen ubinan yang dilaksanakan di Kecamatan Tegineneng, lanjut Robert, teknologi sistem tanam jejer manten super mencapai 9,096 ton setiap hektarnya. Kemudian untuk teknologi siatem tanam jarwo super manual mencapai 7,104 ton dan untuk teknologi sistem tanam jarwo super mesin mencapai 6,832 ton per hektare. Diaman hasil jejer manten meningkat 28 persen dari jarwo super manual dan jarwo super manual meningkat 33,1 persen dari jarwo super mesin. Sebab, hasil panen petani musim gadu yang biasa dilakukan petani dengan sistem tanam jajar tegel adalah 6,750 ton per hektare dan artinya melalui penerapan sistem tanam jejer manten mampu meningkatkan produktivitas sebesar 34,8 persen.

BACA :  Bupati Dendi : Peringatan HUT RI Momentum Ciptakan SDM Unggul

“Namun secara masal sistem ini belum dilaksanakan, karena ini teknologi baru yang keuntungannya tentu bertambah dan populasi juga lebih tinggi. Kalau pupuk sama dengan dosis biasa, hanya kita merekayasa sistem tanam jenis varietasnya dimana pemupukan dalam setiap hektarenya menggunakan 200kg urea ditambah 300kg NPK phonska, 2 ton pentroganik, 30 kg kayabio dan 2 liter dokomposer beka,” tandasnya. (Rus)

BAGIKAN