Tekan Kerugian, Petani Rejomulyo Panen Lebih Awal

469
Shofyan Apriyansyah – Petani Desa Rejomulyo, Kecamatan Palas, memanen padi lebih awal dari biasanya, menggunakan mesin pemotong padi dilokasi sawah mereka, Minggu (8/5).

PALAS – Petani Desa Rejomulyo Kecamatan Palas terpaksa memajukan jadwal panen padi mereka. Biasanya para petani memanen padi pada usia 115 hari namun belakangan padi dipanen pada usia 108 hari.
Upaya itu dilakukan untuk meminimalisir kerugian karena menurunnya hasil produksi padi akibat serangan Organisme penggangu Tanaman (OPT) seperti hama wereng dan lembing.
Panen lebih awal itu berdampak pada nilai jual gabah kering ditingkat petani. Biasanya harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 4.500 menjadi Rp 3.700.
Suyadi (50) petani warga Rejomulyo mengatakan, panen lebih awal terpaksa melakukan untuk menekan angka kerugian. Sebab, jika tidak secepatnya dipanen Suyadi khawatir serangan hama wereng dan lembing terus menekan angka produksinya.
“Langkah ini terpaksa saya ambil sebagai langlah antisipasi kerugian karena gagal panen. Karena sebagian besar tanaman padi petani didesa Rejomulyo mulai terserang hama wereng dan lembing,” kata Suyadi, Minggu (8/5).
Senada dengan Suyadi. Petani Rejomulyo lainnya Mariam (50) juga mengakui jika dirinya memanen lebih awal lahan pertanian padi miliknya. Konsekuensinya kualitas hasil buah padi diakuinya kurang baik. Sehingga berpengaruh kepada harga jual yang rendah ditingkat petani.
“Karena kualitas padi kurang baik, jelas harga GKP juga turun. Hal ini terpaksa saya lakukan, karena saya khawatir akan mengalami gagal panen karena tanaman padi saya terserang hama wereng,” kata Mariam.
Diketahui potensi lahan sawah Desa Rejomulyo Kecamatan Palas tersebut adalah, 325 hektar dan umur tanaman padi rata-rata 108 sampai 110 hari dengan nilai produksi padi sekitar 1.625 ton gabah.(yan)

BAGIKAN