Terusik Pukat Harimau

552
Veridial – Bagan milik nelayan Desa Suak terpaksa dipinggirkan akibat ulah nelayan pengguna pukat harimau yang bisa merusak dan mengganggu pendapatan nelayan setempat, Selasa (13/12) kemarin.

Nelayan Suak Tunggu Campur Tangan Pemerintah

SIDOMULYO – Penggunaan alat tangkap ikan jenis pukat harimau dikawasan pantai Suak, Kecamatan Sidomulyo membuat nelayan setempat geram.

Informasi yang dihimpun Radar Lamsel, keresahan nelayan Suak itu bukan tanpa alasan. Sebab, penggunaan pukat harimau yang beroperasi sejak tahun 1995 oleh nelayan luar daerah dinilai merusak ekosistem laut serta merusak peralatan nelayan tradisional yang masih bertumpu pada jaring, rawai dan bagan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Wilayah Suak Jushadi mengatakan, saat ini nelayan yang beroperasi menggunakan pukat harimau itu masih berlangsung. Dia mengakui, beberapa kali terjadi perselisihan antara nelayan lokal dengan nelayan dari luar daerah itu.

“Kami sering tegur nelayan yang menggunakan pukat harimau diwilayah pantai suak. Bahkan, sempat kami tuntut ulah mereka namun hingga kini masih belum ditemui solusi terbaiknya,” kata Jushadi kepada Radar Lamsel, Selasa (13/12) kemarin.

BACA :  PKS Diserbu Bakal Calon

Dikatakannya, nelayan tradisional setempat mengeluhkan berkurangnya hasil tangkapan akibat penggunaan pukat harimau tersebut. Selain itu penggunaan pukat harimau juga merugikan kelompok nelayan Suak dengan kerusakan alat seperti jaring, rawai dan bagan.

“Sudah hampir puluhan tahun pukat harimau itu masih saja beroperasi. Dahulu ditepian pantai Suak masih bisa dijumpai sejenis rajungan tapi sekarang keadaan sudah berbanding terbalik,” terangnya.

Lebih lanjut Jushadi mengatakan, saat ini keberadaan nelayan yang menggunakan pukat harimau itu masih bisa dijumpai diperairan teluk Suak. Para nelayan, sambung dia notabennya berasal dari luar Lamsel, dari Teluk dan Labuhan Ratu.

“Jika siang hari mereka tidak terlihat ditepian pantai, namun saat malam hari pukat harimau bisa dijumpai hampir menyisir tepian pantai. Curi-curi waktu saat nelayan lokal lengah,” ungkapnya.

BACA :  Lagi, Bangun Fasum Tanpa Usik APBD

Hal senada juga dikeluhkan Ketua Kelompok Nelayan Putra Bahari Andri. Dia membenarkan keresahan yang sedang dialami nelayan setempat. Menurutnya, penggunaan pukat harimau mematikan penghasilan nelayan tradisional.

“Penggunaan pukat harimau jelas mematikan produktifitas tangkapan nelayan lokal. Juga merusak kondisi bawah laut pantai Suak,” beber Andri.

Dikatakannya, 65 kelompok nelayan di wilayah setempat sangat menunggu tindak lanjut dari instansi terkait mengenai masalah ini. Sebab, jika dibiarkan penggunaan pukat harimau akan terus ditebar oleh nelayan-nelayan yang tidak peduli terhadap konsisi bawah laut pantai Suak.

“Harus ada tindakan tegas untuk memberi efek jera bagi para nelayan yang menggunakan pukat harimau. Sudah waktunya kondisi ekosistem laut dijaga, bukan dirusak,” tandasnya. (ver)

 

BAGIKAN