Umat Hindu di Ketapang Gelar Dharma Santi

185
Nyoman Subagio – Umat Hindu di Kecamatan Ketapang menggelar Dharma Santi sebagai rangkaian terakhir perayaan hari Raya Nyepi tahun baru saka 1941/2019, Minggu (24/3) kemarin.

KETAPANG – Dharma Santi sebagai rangkaian perayaan hari Raya Nyepi secara filosofi mengadung makna untuk saling memaafkan antara sesama untuk mencari kedamaian. 

Terkait itu, Umat Hindu di Kecamatan Ketapang menggelar Dharma Santi sebagai rangkaian hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941/2019 yang dipusatkan di Pura Kahyangan Tunggal PED Desa Sripendowo Banjar Timur, Kecamatan Ketapang, Minggu (24/3) kemarin.

Dharma Santi yang mengusung tema “Melalui Dharma Santi Kita Tingkat Persatuan dan Persaudaraan Antar Umat Bergama” itu menghadirkan Pendharmawacana (Narasumber) dari Parisada Pusat yakni Jro Mangku Danu.

Rangkaian terakhir perayaan hari Raya Nyepi tahun 2019 itu diikuti sekitar 500 peserta umat Hindu se-Kecamatan Ketapang dan dihadiri wakil Ketua Parisada Provinsi LampungNi Wayan Sruni, Ketua Parisada Kabupaten Lampung Selatan I Made Sukintre, Ketua MAP Lamsel Mangku I Made Pastika, pengurus WHDI kabupaten dan kecamatan, Uspika Kecamatan Ketapang dan pengurus Parisada Kecamatan Ketapang, pengurus Parisada dan Adat desa se-Kecamatan Ketapang.

Selain dihadiri para pengurus parisada dari provinsi hingga tingkat desa di Kecamatan Ketapang, acara Dharma Santi tingkat kecamatan itu juga dihadiri sejumlah tokoh umat Hindu mulai dari para Pandita (Rsi dan Empu) juga dihadiri para Pinandita (pemangku) masing-masing desa.

Wakil Ketua Parisada Provinsi Lampung Wayan Sruni mengatakan, Dharma Santi merupakan prosesi atau rangkaian terakhir perayaan hari raya Nyepi yang bermakna saling maaf memaafkan antar umat. Pengurus Parisada Provinsi Lampung ini juga mengajak kepada seluruh Umat Hindu khususnya di Kecamatan Ketapang selalu meningkatkan Srada dan Bhaktinya kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu menjaga keharmonisan dalam kehidupan beragama.

“Ini (Dharma Santi) adalah rangkaian terakhir hari raya Nyepi. Dharma Santi sebagai rangkaian perayaan hari Raya Nyepi secara filosofi mengadung makna untuk saling memaafkan antara sesama untuk mencari kedamaian,” katanya.

Sementara itu, narasumber Jro Mangku Danu yang sudah dinanti-nanti Umat Hindu di Kecamatan Ketapang dalam memberikan wejangan dan nasehat spiritualnya disambut antusias masyarakat Hindu setempat.

Rohaniawan asal Jawa Barat (Jabar) ini mengajak seluruh Umat Hindu untuk selalu meningkatkan pengetahuannya tentang Kitab Suci Weda sebagai pedoman hidup sehari-hari. Hampir dua jam lebih, pendharmawacana kondang dilingkup Umat Hindu ini memberikan wejangan atau ajaran-ajaran Dharma kepada umatnya.

“Dharma Santi merupakan momen penting untuk kita (umat Hindu) untuk saling maaf memaafkan atas segala perbuatan menyimpang yang sudah pernah kita lakukan. Sesuai tema “Melalui Dharma Santi Kita Tingkat Persatuan dan Persaudaraan Antar Umat Bergama” sudah jelas bahwa kita harus meningkatkan kerukunan umat beragama yang dibalut persatuan dan persaudaraan antar sesama,” paparnya.

Ketua Panitia Nyoman Muryadi mengatakan, pelaksanaan Dharma Santi tingkat kecamatan rutin dilaksanakan setiap tahun pada proses rangakaian Hari Raya Nyepi. “Pelaksanaan Dharma Santi tingkat kecamatan dilaksanakan secara bergilir masing-masing desa pakraman adat desa sebagai tuan rumah penyelenggara. Dan tahun ini dilaksanakan di Pura Kahyangan Tunggal PED Desa Sripendowo Banjar Timur, Kecamatan Ketapang yang diikuti sekitar 500 peserta,” ujarnya.(man)

BAGIKAN