Umat Hindu Gelar Penyucian Diri ke Laut

186
Nyoman Subagio – Umat hindu di Kecamatan Ketapang melaksanakan upacara Melasti untuk menyambut Hari Raya Nyepi, di Pantai Segara Batu Putih, Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Senin (4/3).

Jelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941

KETAPANG – Jelang perayaan Hari Raya Nyepi tahun baru saka 1941, umat Hindu menggelar upacara Melasti yang dilaksanakan di sumber mata air atau laut (segara). Umat Hindu di Kecamatan Ketapang khususnya, menggelar Melasti di pantai Segara Batu Putih, Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Senin (4/3).

Ribuan umat Hindu berasal dari tujuh desa Pakraman adat di Kecamatan Ketapang mengikuti upacara Melasti secara khidmat. Bahkan satu desa Pakraman adat dari Lampung Timur (Lamtim) mengikuti upacara Melasti atau lebih dikenal dengan pembersihan diri bagi umat Hindu menjelang hari raya Nyepi di pantai Ketapang.

Upacara Melasti merupakan satu dari rangkaian upacara dalam menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1941 yang jatuh pada tanggal 7 Maret 2019.

“Ada beberapa rangkaian upacara yang akan dilaksanakan umat Hindu  menjelang hari raya nyepi. Rangkaian pertama adalah Melasti. Rangkaian selanjutnya yakni Tawur Agung atau melaksanakan penyucian buana agung dan buana alit yang dilaksanakan sehari sebelum hari raya Nyepi, pelaksanaan Nyepi tahun saka 1941, ngembak Geni atau sukuran usai melaksanakan Nyepi dan Dharma Shanti ” kata  Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Ketapang Nyoman Muryadi didampingi Wayan Sude, tokoh umat Hindu Kecamatan Ketapang Senin (4/3).

BACA :  Saiful Usung Visi-Misi Pemerataan Pembangunan

Menurut Nyoman Muryadi, Melasti  adalah upacara yadnya dalam agama Hindu yang secara umum bertujuan untuk mensucikan diri secara lahir dan batin.  Upacara Melasti dilaksanakan setiap 1 tahun sekali, yang merupakan rangkaian dari Hari raya Nyepi.

“Pada hari raya Nyepi tahun saka 1941, umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian. Yakni, Amati Geni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan), Amati Lelanguan (menghentikan kesenangan), Amati Lelungan (tidak berpergian),” tutur Nyoman.

BACA :  Saiful Usung Visi-Misi Pemerataan Pembangunan

Ketua PHDI Kecamatan Ketapang dua periode ini menambahkan, usai melaksanakan  hari raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan acara yang disebut Ngembak Geni atau catur Brata penyepian telah selesai.

“Umat Hindu akan melakukan Dharma Santi, yakni saling berkunjung ke keluarga dan tetangga, untuk saling meminta maaf agar bisa memulai tahun baru dengan hati yang suci,” ujarnya.

Wayan Sude, tokoh umat Hindu Kecamatan Ketapang mengajak kepada seluruh Umat Hindu di Kecamatan Ketapang khususnya agar benar-benar melaksanakan rangakaian upacara hari raya Nyepi Tahun Saka 1941 yang jatuh pada 7 Maret 2019.

“Hari raya Nyepi dirayakan setiap setahun sekali yakni menyambut tahun baru saka bagi umat Hindu. Melalui hari raya Nyepi mari kita tingkatkan Srada dan Bhakti kita kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, saling hormat menghormati dan menjaga keharmonisan antar umat beragama, lingkungan dan alam semesta,” terangnya. (man)

BAGIKAN