Warga Keluhkan Kerusakan Jalan Alternatif di Desa Sripendowo

642
Veby Saputra - Pengendara roda dua menghindari jalan rusak di Desa Sri Pedowo, Kecamatan Ketapang.

KETAPANG – Ruas jalan alternatif simpang Gayam-Ketapang khususnya di Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang masih menjadi keluhan warga setempat dan pengendara yang melintasi jalan yang menghubungkan jalan lintas timur (Jalintim) dan jalan lintas sumatera (Jalinsum).
Padahal saat terjadi kepadatan dan antrean panjang disekitar pelabuhan Bakauheni, jalan alternatif simpang Gayam-Ketapang itu menjadi jalur alternatif utama menuju Bandar Lampung dan sekitarnya.
Pantauan Radar Lamsel, Sabtu (9/1), ruas jalan provinsi tersebut sudah ada perbaikan dari pemerintah belum lama ini. Meski demikian, khusus di Desa Sripendowo belum tersentuh perbaikan sekitar 2 kilometer.
Jalan rusak itu terdapat lubang-lubang jalan sekitar 20 sampai 40 centimeter yang menganggu kenyamanan pengendara. Sepanjang 2 kilometer itu sulit menemukan badan jalan yang mulus. Hampir seluruh badan jalan mengalami kerusakan cukup parah.
Warga yang berdomisili di jalan alternatif itu berharap pemerintah segera memperbaiki jalan poros tersebut. “Yang lain sudah diperbaiki, tapi kenapa khusus di Desa Sripendowo belum diperbaiki. Padahal masih sekitar 2-3 kilometer yang belum diperbaiki. Desa-desa lainnya sudah diperbaiki seperti Desa Karangsari dan Tetaan. Bahkan di Desa Sripendowo juga ada yang diperbaiki tapi sedikit. Kenapa tidak diselesaikan semuanya?,” tutur Kasiem (42) warga setempat, kemarin.
Akibat kerusakan jalan tersebut, ungkap Kasiem, sering menimbulkan kecelakaan lalulintas. “Apalagi kalau bukan orang sini yang lewat, pasti mereka tidak hafal kondisi jalan. Bisa saja mereka menjadi korban akibat jalan rusak seperti terpeleset,” imbuhnya.
“Jalan ini pernah diperbaiki setelah kami menggelar aksi dengan memblokir jalan alternatif pertengahan tahun lalu. Namun perbaikannya asal-asalan dan masih ada titik – titik yang belum di perbaiki,” imbuhnya.
Sri, warga Sripendowo lainnya mengatakan, untuk menekan kecelakaan sebagian masyarakat pernah melaksanakan gotong royong untuk menambal badan jalan yang berlubang dengan tanah dan batu. Namun upaya itu tidak bertahan lama. Saat turun hujan, tanah dan batu yang digunakan untuk menutupi badan jalan tersapu air. “Warga sudah berupaya menutup jalan yang berlubang, namun sia – sia. Kami berharap pemerintah segera melakukan perbaikan,” katanya. (CW1)

BACA :  Polisi Lacak Jejak Belly Oktavia di Kalianda
BAGIKAN