Alih Fungsi Berimbas Gas Melon Langka

67
David Zulkarnain – Seorang petani Desa Bakti Rasa, Kecamatan Sragi sedang menyedot air menggunakan bahan bakar gas elpiji tiga kilogram, Selasa (4/8). Merebaknya pemakaian gas elpiji tiga kilogram di sektor pertanian mebuat gas bersubsidi itu kian sulit dicari.

SRAGI – Kelangkaan gas elpiji ukuran tiga kilogram terjadi diwilayah Kecamatan Sragi. Pasalnya, memasuki musim kemarau gas bersubsidi ini digunakan sebagai bahan bakar mesin pompa air alkon oleh para petani.

Akibatnya, dalam sepekan gas melon bertabung hijau itu mulai sulit didapatkan dipasaran. Bahkan, harga di tingkat eceran pun mulai mengalami kenaikan hingga mencapai Rp25 ribu per tabung.

Subeki (50) salah satu warga Desa Kuala Sekampung mengatakan, sulitnya mencari bahan bakar gas elipiji tiga kilogram itu mulai dirasakan warga sejak satu pekan terakhir. Gas elpiji tiga kilogram itu mulai sulit ditemukan warung-warung eceran.

“Iya selama satu minggu ini gas tiga kilogram ini mulai susah dicari. Harganya pun naik, tapi barangnya enggak ada pada kosong di warung-warung eceran. Bahkan, saya  hari ini sudah sampai Pematang Pasir, Ketapang cari gas masih enggak dapat,” ujar Subeki memberikan keterangan kepada Radar Lamsel saat ditemui di kediamannya, Selasa (4/8).

BACA :  Empat Warga Kualajaya Reaktif Covid-19

Subeki menjelaskan, sama seperti ditahun-tahun sebelumnya kelangkaan gas elpiji tiga kilogram ini selalu terjadi setiap musim kemarau tiba. Sebab, pemakaian gas elpiji tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar memasak rumah tangga, namun juga digunakan sebagai bahan bakar mesin pompa air.

“Sudah biasanya kalau musim kemarau gas susah dicari. Petani juga sudah banyak yang nyedot air sawah menggunakan bahan bakar gas tiga kilogram ini, harganya juga sudah naik dari Rp 23.000 menjadi Rp 25.000. Padahal kemarua baru satu minggu,” terangnya.

Tak hanya di Desa Kuala Sekampung, masayarakat Desa Suka Pura juga mulai merasakan kelangkaan gas elpiji bersubsidi itu. Salah satu tokoh masyarakat setempat Eko Casroni mengungkapkan, masyarakat di desanya juga mulai mengalami kesulitan mendapatkan gas elpiji tiga kilogram itu.

BACA :  DWP Lamsel Santuni 100 Santridi Hari Jadi

“Sudah mulai susah dicari, Mas. Saat ini sawah sudah mulai kering dan petani menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakan mesin sedot air,” sambung mantan Kepala Desa Suka Pura itu.

Yosef  (36), petani asal Desa Suka Bakti juga tidak menampik, memasuki musim kemarau tahun ini pemakaian gas tiga kilogram itu sudah mulai diterapkan petani, termasuk dirinya.

“Dalam satu minggu ini petani memang sudah menggunakan gas elpiji, karena lebih hemat biaya. Gas juga sudah mulai sudah dicari. Ya, kalau langka terpaksa pakai bensin lagi mas,” pungkasnya. (vid)