Asuransi ’kedap’ Disayangkan Petambak

30
David Zulkarnain – Lahan tambak di Dusun Bunut Selatan, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi yang terdampak banjir pada Sabut 11 Januari lalu. Petani tambak mengharapkan, asuransi AUBU dapat disosialisasikan secara menyeluruh.

SRAGI – Ancaman banjir terjadi di Kecamatan Sragi, tidak hanya mengundang keresahan bagi petani padi saja, namun juga menghantui pembudidaya tambak udang vaname di Desa Bandar Agung.

Seperti yang terjadi pada 11 Januari lalu, akibat meluapnya debit air saluran irigasi Way Sekampung, lima hektar tambak terendam bajir, mengancam petani  tambak mengalami kerugian puluhan juta rupiah.

Berbeda dengan petani padi yang sudah mendapatkan sosialisasi Asuransi Usaha Tanam Padi (AUTP) untuk meminimalisir kerugian. Pembudidaya tambak udang vaname ini belum mendapatkan sosialisasi adanya Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU) secara menyeluruh.

Seperti yang diungkapkan oleh Narno (40) salah satu pembudidaya udang vaname Dusun Bunut Selatan mengaku. Akibat bajir luapan saluran irgasi itu ia mengalami kerugian mencapai Rp 40 juta.

Narno mengungkapkan, setiap musim hujan tiba petani tambak udang vaname di Dusun Bunut Selatan selalu dihantui ancaman bencana banjir  yang dapat menimbulkan kerugian besar.

“Iya kalau musim hujan bajir selalu menyebabkan kerugian. Bahkan pada saat ini saja saya mengalami kerugian mencapai Rp 40 juta,” ujar Narno kepada Radar Lamsel saat ditemui di lokasi tambaknya.

BACA :  Hati-hati ’Musim’ DBD

Namun, meski sering terdampak banjir hingga saat ini dirinya belum mendapatkan solusi untuk meminimalisir kerugian. Ia juga mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi adanya asuransi AUBU dari pihak Penyuluh Perikanan Lapangan (PPL).

“Mungkin hanya untuk petani tambak yang kelompok saja. Tapi untuk kami yang mandiri enggak pernah ada. Padahal asuransi ini penting untuk meminimalisir kerugian, terutama di Bunut Selatan yang kerap terendam banjir ini,” ucapnya.

Sementara itu salah satu tokoh masyarakat Desa Bandar Agung, Numi Candra mengaku, asuransi untuk pembudidaya tambak udang vaname tersebut memang sudah ada, namun baru menyentuh sebagian kecil dan hanya untuk petani tambak tradisional.

“Memang sudah ada, tapi baru sedikit dan hanya untuk tambak tradisional, belum menyeluruh. Dengan uang ganti rugi sebesar Rp 2 juta per musim panen,” terangnya.

Terpisah, Kepala Bidang Budidaya Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Selatan, Entin menjelaskan, asuransi AUBU itu memang sudah ada, dan berjalan sejak 2018 lalu di Desa Badar Agung.

BACA :  Iringi Pembangunan 2020 dengan Kebersamaan dan Gotong Royong

Program tersebut merupakan gelontoran dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan premi nol rupiah. Namun hanya untuk petambak tradisional dan hanya berlaku selama satu tahun.

“Sudah ada, namun hanya untuk petani tambak yang sudah masuk dalam kartu kusuka. Dengan ganti rugi sebesar Rp 15 juta yang dapat dicairkan selama tiga kali dalam satu tahun. Batas waktunya juga hanya satu tahun, selanjutnya akan diganti petambak yang lain,” jelasnya.

Untuk menangani ancaman banjir yang terjadi di Desa Badar Agung, lanjut Entin, kedepannya pihaknya akan memberikan sosialisasi kepada petani tambak yang belum mendapatkan asuransi AUBU, agar bisa mendaftar secara mandiri.

“Kedepannya akan kami sosialisasikan. Petani tambak juga diharapkan bisa menghubungi PLL agar bisa mendapat kartu Kusuka sebagai persyaratan. Sementara preminya akan ditentukan oleh PT. Jasindo sesuai dengan biaya oprasional tambak,” harapnya. (vid)

BAGIKAN