Ayam ’Tiren’ kok Dijual Bukan Dimusnahkan?

63
Ist - Salahsatu konsumen ayam tiren saat membakar ayam tiren di lokasi kandang ayam ternak petelur, Desa Kertosari, belum lama ini.

TANJUNG SARI – Oknum Security yang berkerja pada salahsatu perusahaan kandang ayam petelur di Desa Kertosari, Kecamatan Tanjung Sari, berinisial LS diduga memanfaatkan ayam mati kemaren (tiren) untuk keuntungan pribadi.

 

Ayam tiren yang berasal dari kandang ternak tempat dirinya bekerja tersebut dijual dengan harga Rp 1.000 per ekor. Ayam tiren itu dijual bebas kepada warga sekitar maupun keluar dari lokasi peternakan.

 

Ironisnya, pihak perusahan atau pengawas ternak ayam petelur ditempat LS bekerja itu terkesan tutup mata, sehingga LS dengan leluasa menjalankan bisnis menjual ayam tiren yang sudah berlangsung cukup lama.

 

Ayam tiren sendiri seharusnya dimusnahkan di lokasi ternak dengan cara dikubur, sehingga, penyakit yang ada pada tiren itu sendiri tidak menular kepada ayam lain, terutama kepada manusia. Dikhawatirkan, ayam tiren yang dijual keluar itu dipergunakan untuk konsumsi oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

BACA :  Dulu Sebulan Sekali, Kini Setahun Dua Kali

 

Salah satu konsumen ayam tiren dari luar Desa Kertosari mengaku, dalam setiap harinya membeli ayam tiren kepada LS. Terlihat dirinya sedang membakar ayam tiren didalam lokasi ternak.

 

Konsumen tersebut mengaku jika ayam tiren yang dibelinya tersebut dipergunakan untuk kebutuhan pakan ternak ikan lele. “Ayam tiren pak, beli sama bu LS Rp 1.000 per ekor. Ya ini harus dibakar dulu disini baru dibawa pulang, ” Ujarnya, Selasa (6/10) pekan lalu.

 

Menurutnya, ayam tiren yang berasal dari kandang ternak itu setiap harinya bisa mencapai 50 ekor lebih. Menurutnya, pembeli ayam tiren bukanlah dirinya saja, melainkan masih banyak konsumen lain yang berlangganan untuk membeli ayam tiren di kandang ternak ayam petelur tersebut.

 

“Sudah lama pak saya beli tiren dengan bu LS disini, setahu saya ayam tiren disini dijual ke warga ini sudah berjalan cukup lama, kalau ada ayam yang mati pasti ada aja yang beli,” Kata dia.

BACA :  Material Mudah Hancur, CV.Tuah Drajat Berkilah

 

Sementara, saat ditemui di Pos Security perusahaan ayam ternak, LS nampak tergesa-gesa meninggalkan Pos Security dikarenakan sudah memasuki jadwal pergantian petugas.

 

“Mau cari apa pak, ini udah siap-siap mau aplusan, apa bapak mau beli telur ayam? Kalau pemilik kandang sudah tiga hari ini nggak masuk,” Ucap LS saat wartawan koran ini ingin mengonfirmasi pemilik ternak ayam petelur.

 

Sedangkan, ketika dipertanyakan adanya seorang konsumen yang membakar ayam tiren didalam lokasi kandang ternak, LS membenarkan bahwa di kandang ternak ayam petelur itu memang menjual ayam tiren. “Oh, bapak mau beli ayam mati, Rp 1.000 per ekor pak, ” Beber LS sembari meninggalkan Pos Security. (CW1)