Balita Mengidap Psoriasis Vulgaris Selama Enam Tahun

1091
Veridial – Kepala UPT PRI Sidomulyo, dr. Rocky Sihombing meninjau keadaan Nia (6) bocah pengidap psoriasis vulgaris asal Desa Banjarsuri Kecamatan Sidomulyo, Selasa (11/7).

SIDOMULYO – Enam tahun mengidap psoriasis vulgaris atau penyakit kulit kronis, Nia (6) bocah asal Dusun Peninjauan, Desa Banjarsuri, Kecamatan Sidomulyo akhirnya dapat bernafas lega. Dinas Kesehatan Lampung Selatan akan menjamin pengobatan bocah bersisik sampai sembuh.

Informasi yang dihimpun Radar Lamsel, Nia anak pasangan Mawi (42) dan Sani (38) ini mulai terjangkit penyakit kulit yang ditandai dengan gatal-gatal hingga timbul semacam sisik disekujur tubuhnya sejak masih bayi. Keuangan keluarga yang sulit menambah derita bocah perempuan ini sampai pada usianya menginjak enam tahun.

Mawi, Ayah dari Nia mengatakan, anak bungsunya itu sedari kecil sudah mengalami gangguan kulit. Akan tetapi pihak keluarga hanya mengobati alakadarnya saja. Mawi menilai penyakit tersebut akan segera sembuh tapi ekspektasi itu diluar dugaannya.

“Semula kami mengira hanya gatal-gatal biasa, tapi kok nggak sembuh-sembuh sampai sekarang ini mas. Semakin digaruk semakin terasa gatal sampai nggak tega melihatnya,” kata Mawi saat ditemui Radar Lamsel dikediamannya, Selasa (11/7) kemarin.

Saat ditanya apakah keluarganya memiliki kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Mawi mengaku punya kartu tersebut. Akan tetapi dirinya tak kuasa membayar iuran sebab status BPJS nya melalui jalur mandiri kelas III.

“BPJS ada, tapi nggak bisa digunakan karena sudah menunggak selama 16 bulan. Ya, sejauh ini Nia hanya kami bawa ke Bidan Desa dan dokter umum untuk mendapatkan perawatan, itupun kalau sedang ada rejeki,” ujarnya.

BACA :  Sensus Penduduk Online, BPS Targetkan 17,8 Persen di Lamsel

Mawi yang berprofesi sebagai penderes kelapa ini pun mengakui, sampai saat ini keluarganya tengah kesulitan mencari jalan keluar untuk pengobatan Nia. Sebab jika hanya mengandalkan hasil deres kelapa milik orang lain tidak akan tercapai kesembuhan yang diinginkan.

Sani, sang ibu juga mengakui kelemahan keluarganya lantaran tak bisa menyembuhkan sang anak sampai usia yang hampir masuk Sekolah Dasar. “Ya, apa boleh buat mas kami hanya bisa pasrah,” kata dia.

Ibu dari tiga orang anak ini mengaku tak kuasa melihat kondisi Nia ketika penyakit yang didera mulai kambuh gatal-gatalnya. Biasanya, lanjut Sani gatal-gatal timbul ketika telat mengonsumsi obat atau persediaan obat sedang habis.

“Kalau sudah gatal-gatal kasihan, digaruk-garuk sehabis itu timbul bercak merah dan tak jarang menimbulkan nanah. Kalau luka sudah mengering timbul semacam sisik keperak-perakan,” paparnya.

Mengetahui ada bocah penderita psoriasis kronis, Dinkes Lamsel melalui Kepala UPT Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo dr. Rocky Sihombing segera mendatangi rumah bocah yang jauh dari segala macam akses. Mewakili Kepala Dinas Kesehatan Lamsel, dr. Jimy Bagas Hutapea, pihaknya memberi santunan serta berjanji akan mengupayakan kesembuhan buah hati dari pasangan Mawi dan Sani itu.

“Sudah kami datangi dan kami revisi BPJS nya, karena selama ini yang bersangkutan memakai BPJS mandiri. Tapi sekarang sudah kami aktifkan kembali BPJS nya dengan dan masuk kategori Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang ditanggung Pemerintah,” ujar Rocky.

BACA :  Teruntuk Kepsek, Thomas: Disiplin Harga Mati

Selain itu Rocky juga berharap pengobatan intensif juga akan diberikan oleh Puskesmas Sidomulyo terhadap Nia, dan untuk sementara Nia akan dirujuk ke Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo sebelum dibawa ke dokter spesialis kulit. “Akan kami upayakan pengobatan ke dokter spesialis suapay Nia bisa lekas sembuh,” terangnya.

Saat ditanya berapa persen kesembuhan yang bisa dicapai dari penyakit kulit kronis itu? Rocky mengatakan jika pengobatan dan terapi dilakukan secara intensif, masih ada setidaknya 70 persen kemungkinan untuk sembuh. “Asalkan rutin, dan sesekali ditangani dokter spesialis bisa sembuh kok,” urainya.

Penyakit semacam ini lanjut Rocky tergolong penyakit yang langka, sejatinya faktor kekebalan tubuh sang anak ikut terserang oleh penyakit tersebut. Sementara indikasi yang ditangkap oleh timnya saat ini penyakit tersebut bisa disebabkan akbiat konsumsi air dan penularan. “Inilah pentingnya sanitasi, dari keterangan keluarganya mereka notabennya mandi, mencuci di sungai kecil yang berada dibelakang rumahnya. Bisa saja faktor air berpengaruh,” uarinya lagi.

Terpisah Camat Sidomulyo, Affendi SE, juga sempat mengunjungi kediaman Nia. Dari penuturan Camat Sidomulyo itu dijelaskan ayah Nia yakni Mawi juga mengidap penyakit tersebut. “Ya sudah saya sambangi kesana, memang kondisinya cukup miris dan mudah-mudahan upaya penyembuhan yang diharapkan bisa cepat dicapai,” tutupnya. (ver)

 

BAGIKAN