Banjir Rugikan Petani Tambak

597

SRAGI – Banjir yang disebabkan luapan Sungai Way Sekampung melanda Dusun Umbulbesar, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, tak hanya merendam rumah warga. Namun ikut merendam tambak milik warga setempat akibatnya petani tambak setempat merugi Rp 5 – Rp 10 juta perhektar.

Munah (52) salah satu petani tambak setempat mengatakan satu bulan yang lalu ia telah meyebar benih udang paname dan ikan bandeng di tambaknya. Namun akibat luapan Sungai Way Sekampung yang terjadi sejak Selasa (6/3) pekan lalu membuat tambaknya luluh lantah.

“Sudah 10 hari tambak saya terendam banjir akibatnya banyak udang dan ikan yang hanyut terbawa banjir. 5 juta sia-sia, saya rugi modal benih,” kata dia kepada Radar Lamsel di lokasi pengungsian, Kamis (15/3).

BACA :  52 Persen Poktan Sudah Susun e-RDKK

Hal Senada juga dialamai Devi (44), akibat banjir tersebut 4 petak tambak udang paname miliknya yang berumur 2 bulan juga ikut terendam. Selain itu akibat tingginya intesitas hujan yang terjadi sejak satu bulan terahir berakibat banyak udang yang mati.

“Kalau luapan banjir masih bisa diantisipasi dengan memasang waring (jaring) disekelling kolam supaya udang tidak hanyut. Tapi kalau karena hujan yang terus terjadi membuat udang mati, terkena virur. Akibanya saya merugi sampai Rp 20 juta,” ucap Devi saat ditemui di tambaknya.

Selain itu, lanjut Devi, ia merasa kesulitan untuk medapatkan pasokan air laut karena banyak yang sudah mengalami pendangkalan, akibatnya pertumbuhan udang melambat.

BACA :  Banyak Nelayan Tanpa Kapal

“Saya terpaksa memakai air Way Sekampung walaupun pertumbuhan udang sedikit lambat. Saya harap pemerintah dapat melakukan pengerukan supaya air lau bisa masuk dengan lancar,” tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dusun Umbulbesar Hadiyanto mengatakan lauapan air Sungai Way Sekampung sudah mengalami penyurutan.

“Sudah ada tanda-tanda surut walaupun hanya 20 centimeter. Warga masih tetap mengungsi di posko,” ujarnya.

Ia juga mengatakan hingga Kamis bantuan untuk koban banjir terus berdatangan. Namun, kata dia, dapur umun dari Dinas Sosial (Dinsos) Lamsel yang ditugaskan memasak makanan untuk korban banjir sudah tidak ada lagi.

“Warga lebih suka memasak sendiri di posko. Hingga sekarang bantuan untuk korban banjir terus berdatangan,” pungkasnya. (Cw1)