Butuh Waktu Selesaikan Kasus RO

117
Gambar Ilusatrasi

RAJABASA – Polres Lamsel belum melanjutkan penyelidikan kasus dugaan percobaan penculikan yang dialami RO, pada akhir Januari lalu. Pasalnya, bocah asal Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa ini belum mau dimintai keterangan. Polisi juga tak mau menekan supaya RO mau ditanyai. Polisi terpaksa harus menunggu waktu RO siap berbicara mengenai cerita sesungguhnya.

Kapolres Lamsel, AKBP. Edi Purnomo, S.IK mengungkapkan, RO masih enggan dimintai keterangan lantaran masih trauma atas penyebaran sebuah video berisi intimidasi oleh oknum gurunya. Selain itu, Edi mengatakan bahwa RO juga takut mendapat bullying dari masyarakat karena video itu telah membuatnya menutup diri.

“Sementara anaknya masih belum siap untuk kita mintai keterangan. Bukan takut, tapi karena bully-an kemarin membuat malu yang bersangkutan,”  katanya saat dikonfirmasi Radar Lamsel, Minggu (23/2/2020).

BACA :  Kapal Logistik Ditarik, Kerusakan Belum Ditelisik

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Provinsi Lampung, Amelia Nanda Sari, S.H. mengapresiasi jajaran Polres Lamsel dalam menangani kasus itu. Wanita yang akrab disapa Amel ini menilai langkah yang dilakukan oleh polisi sudah tepat. Sebab, butuh waktu lama bagi RO untuk memulihkan kondisi psikisnya. Setelah itu, polisi baru bisa meminta keterangan yang jelas dari bocah itu.

“Pihak kepolisian sudah melakukan tindakan benar. Psikis RO sedang terluka saat ini. Kita harus memberikan waktu sejenak untuk me-refresh dan menenangkan psikisnya,” katanya.

Amel menyebut ada hal lain yang bisa digunakan supaya RO bisa menceritakan kronologis sebenarnya. Caranya dengan meminta bantuan psikolog klinis. Nantinya, keterangan yang didapat psikolog klinis dari RO bisa dijadikan bahan untuk mengetahui detail dari kronologi peristiwa penculikan yang sebenarnya.

BACA :  Kapal Kandas Tunggu Tim Penyelam

Sembari menunggu upaya-upaya tersebut, politikus asal Kecamatan Jatiagung ini meminta masyarakat bersabar, dan menunggu hasilnya. Amel mengajak masyarakat memberikan support kepada RO agar bisa beraktivitas seperti anak-anak seusianya. Menurutnya, dukunga diperlukan RO agar tekanan yang diterima karena video itu bisa dilupakan.

“Yang saat ini bisa kita lakukan adalah memberikan semangat dan menciptakan suasana nyaman dalam lingkungan pendidikan. Dan juga keluarganya. Karena ketika kondisi psikis RO sembuh dan tidak lagi trauma, pasti dia akan cerita sendiri. Kita enggak perlu menambah lagi tekanan itu dengan berbagai pertanyaan,” katanya. (rnd)