Coba Terapkan Budidaya Tumpang Sari Bawang dan Cabai

606

PENENGAHAN – Sistem budidaya tumpang sari atau tanaman  campuran akan coba diterapkan petani di Kecamatan Penengahan menjelang musim panen bawang mendatang. Menurut rencana, petani akan menerapkan budidaya tumpang sari bawang dengan cabai merah keriting.

Petani bawang Desa Ruangtengah, Kecamatan Penengahan, Ruddin (44) mengatakan, penerapan budidaya tumpang sari akan dilakukan saat usia tanaman bawang mencapai 30 hari. Saat tanaman bawang mencapai usia itu, Syafruddin akan melakukan penanaman benih cabai merah keriting.

“Persiapannya sudah matang, makanya kali ini mau diterapkan dulu. Kita satukan bawang dengan cabai merah keriting,” katanya kepada Radar Lamsel, Senin (13/8) kemarin.

BACA :  Pemdes Way Kalam Kembangkan Potensi Air Terjun Curug Anakan

Menurut dia, tanaman bawang usia 30 hari merupakan waktu yang tepat menanam benih cabai. Ketika bawang memasuki umur 60 hari atau masa menjelang panen, benih cabai yang ditanam memasuki periode menjelang buah.

“Jadi, dalam satu lahan dua komoditi. Baik bawang dan cabai semuanya memakai pola organik, sehingga saat panen hasilnya jadi lebih memuasakn,” katanya.

Petugas POPT Kecamatan Penengahan Syafruddin mengatakan budidaya tumpang sari yang akan diterapkan pada musim tanam ini harus dijadikan contoh oleh petani lain. Jika tidak, maka petani akan dianggap rugi karena tidak berani memanfaatkan lahan yang kosong.

BACA :  Pengunjung Pasar Pasuruan Wajib Memakai Masker

“Ini yang akan dijadikan contoh kepada petani, karena selama ini mereka belum berani menerapkan sistem seperti ini. Biasanya setelah panen bawang, lahan jadi kosong, sangat mubazir,” katanya.

Syafruddin melanjutkan, menerapkan pola organik pada tanaman bawang dan cabai juga dinilai sangat baik dan dapat meningkatkan kualitas buah tanaman.

“Rencana cabai juga akan memakai pola organik. Nah ini juga akan kita buktikan di sini, tinggal kita lihat hasil akhirnya nanti. Tapi saya prediksi hasilnya akan bagus,” katanya. (rnd)