DBD Belum Masuk KLB

54
Kabid Penanggulangan Penyakit Dinkes Lamsel Kristi Endarwati

KALIANDA – Penyebaran kasus DBD di sejumlah kecamatan semakin meningkat.  Penyakitnya mematikan ini juga disebut telah menyentuh kategori peningkatan kasus. Pelbagai spekulasi pun bermunculan. Penyebabnya, kalau kondisinya terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan statusnya bakal beralih ke kejadian luar biasa (KLB).

Kabid Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinkes Lamsel, Kristy Endarwati, mengamini kalau kasus DBD masih terus bermunculan. Meski demikian, kondisi sekarang ini belum bisa dimasukkan dalam kriteria KLB. Karena, lanjut dia, jumlah kasus DBD tahun 2020 lebih sedikit jika dibandingkan dengan tahun 2019 di periode yang sama.

“Jauh lebih besar tahun 2019. Karena itu, kriterianya belum masuk KLB,” kata Kristy saat dikonfirmasi Radar Lamsel, Selasa (25/2/2020).

Terkait kasus DBD sejauh ini, bagaimana dengan sistem penguatan surveilans? Kristy menegaskan surveilans tetap berjalan. Apabila ada kasus, maka petugas surveilans akan melaksanakan PE (Penyelidikan Epidemiologi) untuk mencari sumber penularannya. Dinkes, kata Kristy, memiliki data dan laporan mingguan mengenai mewaspadaan dini dan respons terhadap penyakit DBD.

BACA :  Perangi Corona Awasi Dananya!

“Beberapa kasus DBD kita juga ada yang penularaannya dari tempat lain, seperti daerah Bandar Lampung, Tangerang, dan daerah lainnya. Jadi bukan dari sini (Lampung Selatan) saja,” katanya.

Sampai sekarang, Dinkes telah ikut turun memantau perkembangan penyakit DBD di beberapa wilayah. Seperti Kecamatan Ketapang, Palas, Tanjung Bintang, dan Kalianda. Dinkes juga berencana mengunjungi wilayah Kecamatan Ketapang pekan depan. Prioritas Dinkes terjun ke wilayah yang memiliki kasus banyak.

“Hasil pengamatan kami memang masih banyak tempat perindukan nyamuk. Yang penanganannya tentunya dengan 3M plus. Kegiatan ini yang belum dilakukan secara maksimal sehingga kasus DBD tetap terus ada,” katanya.

BACA :  Tiga Kecamatan di Semprot Desinfektan 

Lebih lanjut, Kristy mengatakan bahwa Dinkes akan terus mendorong masyarakat supaya menerapkan 3M plus yang menjadi senjata jitu untuk membasmi jentik nyamuk. Kristy menyebut ada cara yang efektif supaya masyarakat mau menerapkan langkah itu. Caranya melalui pemerintah desa yang mengajak masyarakatnya secara langsung.

“Yang lebih efektif sebenarnya dari desa yang hayo-hayo warga untuk 3M. Karena harus dilakukan rutin, maksimal 1 minggu sekali. Kalau fogging kan hanya membunuh nyamuk dewasa. Pada saat tidak dilakukan 3M, ya jentik nyamuk jadi nyamuk dewasa, dan bertelur lagi,” katanya. (rnd)