Debit Air Gunung Rajabasa Menurun

82
ILUSTRASI

RAJABASA – Kemarau panjang beberapa waktu lalu menyebabkan penurunan debit air merosot tajam. Kondisi ini disebut bisa mengancam keberadaan sumber air. UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Way Pisang berusaha meminimalisir penurunan debit air. Caranya dengan menjalankan program penyelamatan sumber air di sekitaran gunung Rajabasa.

Saat ini KPH tengah mendata sumber air di wilayahnya. Belum diketahui secara pasti berapa jumlah debit air yang mengalami penurunan. Namun KPH menyebut sumber air yang didata tersebar di 22 desa yang ada di 4 kecamatan. Di Kecamatan Kalianda ada Desa Desa Babulang, Kecapi, Pematang, Sumur Kumbang, Tengkujuh, dan Jondong.

Di Kecamatan Bakauheni ada Desa Bakauheni, Totoharjo, dan Semana. Kemudian di Kecamatan Penengahan ada Desa Penengahan, Tanjungheran, Padan, dan Waykalam. Selanjutnya di Kecamatan Rajabasa ada Desa Kotaguring, Betung, Canggung, Banding, Rajabasa, Canti, Sukaraja, Waymuli, dan Cugung.

“Ada 22 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan, dan telah menerima pemanfaatan izin hutan desa,” kata Kepala UPTD KPH Way Pisang, Wahyudi Kurniawan, S.Hut kepada Radar Lamsel, Selasa (14/1/2020).

Pria yang akrab disapa Wahyu ini menegaskan masing-masing desa harus bergerak. Rencana atau program penyelamatan sumber air yang ada di sekitaran gunung Rajabasa harus dilaksanakan akhir Januari ini. Tepatnya setelah pendataan selesai. KPH, kata Wahyu, mengajak seluruh elemen menggerakkan kepedulian terhadap sumber air melalui keswadayaan.

“Karena menurut peraturan, vegetasi di lokasi sumber air harus diamankan dalam radius 200 meter,” ucapnya.

Desa yang memiliki izin hutan memiliki tanggungjawab. Wahyu mengatakan salah satu kewajiban pemegang izin hutan desa tersebut adalah merehabilitasi kawasan hutannya. Pada umumnya desa sudah melakukan rehabilitasi secara terbatas karena menyesuaikan dengan kesiapan bibit.

“Karena bantuannya ada dua, dari kehutanan dam swadaya mereka sendiri. Tetapi ini program lokal yang melihat kondisi di lapangan. Kami ingin melibatkan banyak pihak yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian hutan,” katanya.

Tak hanya itu, Wahyu mengatakan jika KPH akan mencari penggarap lahan, dan penerima manfaat. Kedua belah pihak ini akan diajak dalam program penyelamatan sumber air. Jika tidak menemukan lahan garapan di sekitaran wilayah hutan, KPH berencana menanami lahan yang kosong tersebut dengan kayu.

“Kita minta mereka ikut berkontribusi. Ikut kerja penanaman, penyediaan bibit. Di sini kita tekankan, bahwa kita semua butuh air,” katanya. (rnd)