Demi Keluarga Nelayan Hadapi Cuaca Buruk

43
Shofyan – Cuaca buruk, nelayan tangkap tradisional, di Dusun Labuan, Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, lepas sauh penambatan perahu di pinggir pantai, Sabtu (24/10).

SIDOMULYO – Ditengah cuaca buruk, para nelayan tangkap tradisonal Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo terpaksa melaut, untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Selain itu, akibat sulit melaut karena cuaca buruk, yakni peralihan musim angin timur ke angin barat laut, nelayan kapal kecil tradisional di lepas pantai Desa Suak, Kecamatan Sidomulyo, mengalami penurunan hasil tangkapan ikan.

Mahmud (60) nelayan Dusun Labuan, Desa Suak mengatakan, mulai sepekan terkahir dirinya dan nelayan tangkap ikan tradisional sekitar di desanya, sulit untuk melaut. Pasalnya, peralihan dari musim angin timur ke musim angin barat kondisi gelombang ditengah laut cukup tinggi satu sampai dua meter lebih.

“ Sudah 7 hari ini, kami nelayan tangkap tradisional di dusun labuan dan sekitarnya tidak berani melaut. Sebab, angin kencang disertai gelombang tinggi ditengah laut,” kata Mahmud kepada Radar Lamsel, Sabtu (24/10), saat memperbaiki kapal tangkap tradisonal miliknya yang snegaja ditambatkan di bibir pantai, akibat cuaca buruk.

Ia menceritakan, badai atau gelobang tinggi seringkali terjadi tanpa dapat diprediksi ditengah laut. Kondisi demikian lanjutnya, dampak dari cuaca buruk di peralihan musim tahun ini. Meski para nelayan memaksakan diri melaut, hasil tangkapan yang diperoleh pun tidak sebanding dengan biaya oprasional.

“ Cuca seperti ini, nelayan tidak berani melaut sampai ke tengah. Sekalipun dipaksakan, selain beresiko, hasil tangkapan juga sedikit, tidak cukup untuk menutup biaya oprasional,” kata Mahmud.

Hal senada pun dikatakan oleh Amirudin (50) nelayan sekitar. Namun begitu, dirinya mengatakan, seringkali mengamati kondisi cuaca. Sebab,  ketika cuaca mendukung, ia dan beberapa nelayan sekitar mencoba untuk melaut.

“ Bila tidak hujan dan angin tidak kencang, saya mencoba melaut. Besar harapan mendapat hasil tangkapan. Tapi kalo cuca tidak mendukung saya lebih memilih untuk tidak melaut,” tarangnya.

Upaya yang penuh resiko itu terpaksa dilakukan, lantaran sebagian nelayan mengaku tidak ada mata pencarian lain yang bisa dilakukan selain melaut, untuk menutupi kebutuhan keluarga.

Menurut Amirudin, kondisi sulit melaut akibat cuaca buruk diprediksi akan terus terjadi mulai Oktober 2020 sampai Januari tahun 2021 mendatang.

“ Memang beresiko, tapi hanya pekerjaan menagkap ikan ini yang mampu saya lakukan, untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” pungkasnya.(sho)