Demi Rp 5 juta Sebulan, Agus Ubah Kamar jadi Ruang Penetasan

710

SRAGI – Agus Trianto (44) warga Desa Sukapura Kecamatan Sragi sukses dengan pekerjaannya sebagai penetas telur itik. Dalam satu bulan omset yang ditawarkan bisa mencapai Rp 3 juta sampai 5 juta.

Usaha penetasan telur itik tersebut sudah ia geluti sejak 2 tahun lalu. Awalnya ia hanya beternak. Namun karena harga telur itik yang sering naik turun ia beralih untuk menetaskan telur unggas. Untuk menetaskan telur-telur unggas Agus mengubah kamar anakn menjadi ruang penetasan.

“Saya sudah sepuluh tahun beternak itik hingga sekarang itik saya berjumlah 800 ekor. Namun karena harga telur itik yang sering naik turun saya beralih untuk menetaskannya,” ujar Agus kepada Radar Lamsel saat ditemui di kediamannya, minggu (28/1).

Dijelaskan Agus ilmu penetasan telur itik tersebut ia peroleh dari progam Dinas Peternakan Lampung Selatan pada awal tahun 2000. Saat itu beberapa peterenak itik di Kecamatan Palas di bawa ke Kalimantan untuk mendapatkan pelatihan.

BACA :  Insentif Garda Terdepan Corona Diusul Naik

Menurutnya usaha penetasan telur itik ini cukup menggiurkan. Dalam satu bulan ia mampun menetaskan 1.000 sampai 1.500 telur itik dengan harga jual Rp 8.000 per ekor. Untuk pemasarannya tidak terlalu sulit, biasanya ia memasarkan hasil tetasannya ke beberapa daerah di Lampung seperti, Pringsewu, Metro dan Kota Bumi bahkan sampai Bengkulu.

“Dari usaha penetasan telur itik ini pendapatan keluarga saya meningkat sampai 70%, jadi bisa nabung untuk biaya sekoah anak. Selain itu saya juga bisa memberikan lapangan kerja untuk penduduk di kampung saya,” kata Agus.

Saat ini Agus sudah memperkerjakan 3 orang untuk mengurus itiknya dengan upah Rp 2 juta per bulan. Namun ia juga mengungkapkan kendala yang ia hadapi saat ini adalah masalah kurangnya lahan untuk menggembala itiknya di daerah Palas dan Seragi.

BACA :  Perekonomian Terpukul!

“Untuk mengatasinya, saya menggembalakan itik saya di daerah Metro dan Pringsewu, mungkin sampai tiba musim panen padi lagi di daerah sini,” terangnya.

Tak hanya mengurus usaha penetasan telur itiknya sediri, Agus juga kerap mengajarkan dan membimbing warga yang baru menekuni usaha tersebut. Bahkan Agus kerap dipanggil ke sekolah-sekolah AMP dan SMA untuk memberikan ilmu penetasan telur iti tersebut.

“Saya senang bila ada warga yang mau belajar dan saya tidak merasa tersaingi. Terlebih pada anak-anak sekolah, bila tidak dapat meneruskan pendidikannya mereka bisa menekuni usaha yang saya geluti sekarang ini,” pungkasnya.  (Cw1)