Diringkus, Dilakban, Dihempas, Motor Dirampas

176
Shofyan Apriyansyah – Sakun (56) Korban Curanmor, warga Desa Karang Pucung, Kecamatan Waysulan dikediamanya, menunjukan bekas luka lebam, akibat todongan Senpi oleh kawanan begal, Rabu (18/12).

Begal Bersenpi Berkeliaran di Way Sulan

WAYSULAN – Derita memilukan datang dari Desa Karangpucung Kecamatan Way Sulan. Sakun (56) jadi korban aksi begal bersenjata api. Ia nyaris tewas usai kepalanya ditodong senpi, tangan dan kaki diringkus, mulut dilakban, motor plus uang tunai dirampas lalu tubuhnya dibuang ke sawah oleh kawanan begal, (17/12) lalu.

Korban yang masih bernafas itu sempat dihantam gagang senpi di bagian kepalanya. Penderitaannya berlanjut ketika tiga kawanan begal itu menyeret Sakun sekitar 50 meter dari tempat kejadian perkara, sebelum tubuhnya yang tak berkutik dihempas ke persawahan lalu ditutupi pelepah sawit.

Sakun memang berhasil lolos dari maut. Namun Yamaha Vega tahun 2006 bernomor polisi F 4995 HO dan uang tunai sebasar Rp1,3 juta miliknya berhasil dirampas begal berperawakan besar tinggi dan dua lainnya kurus tinggi.

Rabu (18/12) Sakun (56) baru dapat ditemui Radar Lamsel. Kondisinya masih drop namun cerita menakutkan yang dialaminya mengalir kendati terbata-bata. Dijelaskan pada Selasa (17/12) pagi pukul 05.30 WIB dirinya bergegas ingin mengambil ternak ayam di Desa Karya Mulya Sari, Kecamatan Candipuro yang akan dijajakannya kepada pelanggan di bilangan pasar Karang Pucung.

“ Di perjalanan menuju Desa Karya Mulya Sari Candipuro, diperlintasan jalan di Desa Pamulihan, ada Tiga orang tidak dikenal menghentikan saya secara paksa dan langsung menodongkan Senpi kearah kepala saya,” tutur Sakun kepada Radar Lasmel, Rabu (18/12) di kediamannya.

Ia menjelaskan, niatnya ingin menghindar dari cegatan begal tersebut. Namun, kendaraannya terhenti akibat badan jalan diportal oleh kawanan begal menggunakan palang kayu di tengah badan jalan.

Sehingga, dirinya kesulitan untuk menghindar dan pasrah menyerahkan motor yang ditumpanginya beserta uang tunai sebesar Rp.1,3 juta rupiah kepada kawanan begal.

“ Saya tidak bisa menghindar mas, karena motor tercegat oleh portal kayu ditengah jalan, sehingga sulit untuk dilewati, saya juga sempat dihantam gagang senpi dibagian kepala,” jelasnya.

Tidak berhenti disitu kawanan begal lanjut mengikat kedua lengan dan kakinya seraya mengancam membunuh jika korban berteriak.

“ Setelah itu, pelaku begal mengikat tangan dan kaki saya juga melakban mulut saya supaya suara tak terdengar. Kemudian melempar saya ketengah areal sawah yang tidak jauh dari lokasi kejadian,” kata Sakun.

Setelah kawanan begal kabur merampas harta bendanya, Sakun berusaha melepaskan tali yang mengikatnya. Dengan sebagian kepala yang lecet akibat hantaman senpi Sakun pun berhasil melepaskan diri dan pulang kerumahnya dengan berjalan kaki.

Ternyata, Sakun tak sendirian jadi bidikan begal. Kadus I Desa Karang Pucung Toto juga mengalami hal serupa. Diakuinya, sekitar dua minggu lalu, motor merek Honda Beat miliknya yang diparkir dihalam rumahnya, raib digondol kawanan begal. Bahkan dipaparkan dalam bulan ini sekitar belasan motor warga di Kecamatan Way Sulan dirampas begal.

Toto dan warga lainya berharap kepada petugas Kepolisan setempat untuk menyilapi  aksi krimanal tersebut dengan lebih meningkatkan patroli diwilayahnya.

“ Aksi Curanmor tersebut sudah saya laporkan kepada Polsek Setempat. Kami berharap aparat kepoliasn yang bertugas harus lebih meningkatkankan lagi patroli. Agar, kejadian serupa tidak terulamng lagi,” harap Toto.

Kesadisan begal di Way Sulan memantik tanggapan anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan Dede Suhendar. Dia bereaksi ihwal peristiwa yang menimpa warganya tersebut.

“ Keluhan warga hampir satu bulan terakhir, terkait aksi Curanmor yang terjadi, memang banyak dikeluhan warga dan sangat mengangu kententraman,” ucap Dede Suhendar.

Ia menjelaskan, upaya untuk memberikan rasa aman dan nyaman warga terhadap aksi Curanmor itu sudah sering disampaikannya kepada apartur kepolisan setempat.

“ Aksi Curanmor yang meresahkan warga ini sudah sering saya sampaikan kepada Polsek setempat. Dimana, dalam hal ini Polsek setempat terus giat melakukan patroli rutin,” jelasnya.

Namun, dengan alasan keterbatasan personil petugas dilapangan yang hanya empat personil, menjadi kendala belum optimalnya peran dan fungsi Pos.Pol Waysulan.

Legislator dari Fraksi PKS itu mengatakan, demi menciptakan rasa aman dan yaman ditengah masyarakat. Ia mewakili masyarakat akan berupaya mendorong kepada pemerintah untuk status Pos.Pol  Waysulan ditingkatkan menjadi Polsek.

“ Bila status Pos.Pol Waysulan ditingkatkan menjadi Polsek, minimal, ada tambahan sokongan armada petugas dilapangan. Sehingga peran dan fungsi aparatur kepolisan diwilayah Waysulan bisa optimal,” harapnya.

Terpisah, Kapolsek Katibung Iptu. Wido Dwi arifiya Zaen, Sik.M.H berdalih belum ada laporan masuk terkait peristiwa Curanmor pada Selasa pagi pukul 05.30 itu ke Mapolsek Katibung.

“ Biar nanti kami selidiki dulu, karena belum ada laporan masuk,” kata Iptu. Wido D.A Zaen, kepada Radar Lamsel, saat dikonfirmasi via ponselnya, kemarin.

Meski begitu, pihaknya akan berupaya turun ke TKP dan melakukan penyelidikan terkait peristiwa Curanmor itu.

“ Ya, jelas kami tetap akan melakukan Lidik pelaku berdasarkan petunjuk-petunjuk di TKP. Serta giat preventif kepolisian,” pungkasnya.(CW2)