Disnak Dicurigai Bentengi Rekanan

39
ILUSTRASI

KALIANDA – Polemik soal kematian ayam bantuan terus mendapat sorotan dari sejumlah kalangan masyarakat. Terlebih, sikap Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak dan Keswan) Lampung Selatan yang terindikasi jadi benteng rekanan atas peristiwa tersebut.

Indikasi terhadap Disnak yang terkesan pasang badan itu, sangat jelas ditunjukan dari stetmen dan pernyataan pembelaan soal kematian ayam jenis joper itu. Bahkan, pada saat rapat dengar pendapat bersama Komisi II DPRD Lamsel Kepala Disnak dan Keswan Lamsel, Arsyad Husein juga menyebut kematian ayam lantaran salah penerima yang tidak cakap.

Padahal, dari penelusuran Radar Lamsel, masyarakat sangat kecewa dengan kondisi ayam bantuan tersebut. Bahkan, mereka berani menantang jajaran petugas dengan menggali dan memeriksa kondisi ayam yang mati.

Sebab, mereka sangat yakin jika ayam yang diterima sudah dalam kondisi sakit. Sehingga, kurang dari tujuh hari, ribuan ayam proyekan itu mati berjamaah usai sampai kepada penerima bantuan.

Saat dimintai tanggapannya, Ketua Ormas Ikam Lamsel, Ruli Hadi Putra sangat terkejut atas peristiwa tersebut. Dia mengindikasi, terdapat permainan antara pihak rekanan dan OPD dalam praktek penyaluran bantuan hibah tersebut.

“Tentu hal ini harus diusut tuntas. Jangan bicara soal jumlah kematiannya karena pasti diganti. Tapi, ada apa kok sampai banyak yang mati kalau tidak ayam yang diberikan dalam kondisi sakit,” kata Ruli, Kamis (19/11) kemarin.

Dia menyesalkan, jika saat ini masih ada pihak yang terkesan melakukan kesepakatan jahat untuk menggerogoti uang rakyat melalui kegiatan APBD. Terlebih, kegiatan tersebut untuk diberikan kepada masyarakat terdampak Covid-19.

BACA :  Program PKK Lamsel Dilirik TP PKK Bengkulu

“Kalau tidak mau dicurigai atau diduga ada kesepakatan jahat, buktikan kepada masyarakat kalau semua proses dan mekanisme nya benar. Karena, jika semua item kegiatan itu dipenuhi rekanan kami yakin ayam yang diberikan pasti baik dan sehat. Tidak mungkin ada peristiwa seperti ini,” pungkasnya.

Rencana Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung Selatan untuk menyalurkan ayam pengganti utuk kelompok ternak penerima bantuan pada Sabtu (21/11) menadatang mulai diwarning oleh sejumlah di Kecamatan Sragi.

Kelompok berharap ayam pengganti  diserahkan kepada kelompok dalam keadaan sehat. Jika tidak ayam batuan itu akan ditolak.

Seperti yang diutarakan oleh Ketua Kelompok Tani Tri Karya Manunggal Desa Kedaung, Sanmiarjo. Dimana ayam bantuan yang diterima kelompoknya pada 6 November lalu  terdapat 92 ekor yang mati.

“Iya dikelompok saya, ada 92 ekor yang dilaporkan ke Dinas Peternakan. 92 ekor itu yang mati selama 7 hari pertama karena sakit,” kata Sanmiarjo memberikan keterangan kepada Radar Lamsel, Kamis (19/11) kemarin.

Namun dihari berkutnya, ayam yang telah disalurkan kepada 40 anggota kelompok masih banyak yang terus mengalami kematian. Dari 150 ekor yang tersisa kini hanya sekitar 70 ekor ayam yang masih bertahan hidup.

“Tapi  selain 92 ekor itu, tersisa 150 ekor dan masih banyak ayam yang sudah ditangan anggota kelompok terus mengalami kematian. Bahkan sampai dengan saat ini hanya tersisa sekitar 70 ekor lagi,” ucapnya.

Pada saat pendistribusian 6 November lalu, Sanmiarjo sempat melihat kondisi ayam tidak dalam kondisi sehat. Tapi, salah satu petugas kesehatan hewan Dinas Peternakan mengatakan, ayam tersebut harus diterima karena ayam tersebut merupakan bantuan.

BACA :  Sekolah Tatap Muka Dijadwal Januari

“Saya sempat protes kok ayamnya pilek dan kantong makanan di leher ayam dalam keadaan  kosong. Tapi kata orang dinas yang ikut nganter; sudah terima saja namanya juga ayam dikasih,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan ayam pengganti yang akan disalurkan pada Sabtu mendatang diserahkan kepada kelompok dalam keadaan sehat.  Kelompoknya juga akan menolak jika ayam yang diberikan masih dalam keadaan sakit.

“Kami enggak mau nerima kalau ayam pengganti nanti masih dalam keadaan sakit. Karena nantinya hanya menyusahkan peternak yang memelihara,” sambungnya.

Hal senada juga diutarakan, oleh Ketua Kelompok Naga Sari Desa Margajasa, Rudi Setiawan. Ia mengaku, Kamis kemarin pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan juga telah melakukan pemantauan langsung di kandang ternak anggota kelompoknya.

“Tadi kandang ternak anggota kita juga sudah dipantau, kuburan ayam juga sudah dilihat, saya suruh gali tapi mereka enggak mau. Kita juga sudah diimbau untuk melakukan penyemprotan desinfektan secara rutin pagi-sore sebelum ayam pengganti yang mati ini disalurkan,” ungkapnya.

Di kelompoknya hanya ada 50 ekor ayam yang akan diganti lantaran mati ditujuh hari pertama. Ia juga mengaharapkan Dinas Peternakan bisa memastikan penyerahan ayam bantuan tersebut dalam keadaan sehat.

“Hanya 50 ekor yang kita laporkan. Padahala ada 122 ekor lagi yang mati setelah tujuh hari itu, enggak tau diganti atau tidak. Tapi harapan kami ayam yang akan diserahkan pada hari Sabtu itu dalam kondisi sehat,” harapnya. (idh/vid)