Dua Bulan Libur Produksi, Petambak Merugi

127
David Zulkarnain – Salah satu petak tambak udang vaname di Dusun Kualajaya, Desa Bandaragung, Kecamatan Sragi yang mengering akibat musim kemarau, Kamis (15/8).

SRAGI – Musim kemarau panjang yang terjadi saat ini mulai dikeluhkan pelaku usaha tambak di wilayah Kecamatan Sragi. Pasalnya, pasokan air yang mulai menipis memberikan dampak buruk dan menghambat produktivitas tambak udang di Desa Bandaragung.

Dari pantauan Radar Lamsel dilapangan, ketersediaan air di sektor tambak di desa setempat semakin menipis akibat musim kemarau yang terjadi sejak Juni lalu. Akibatnya, sebagian besar petani tambak tidak berproduksi dan memilih untuk beristirahat dan membersihkan kolam penampungan karena khawatir merugi.

          Salah satunya Samsul (46) petani tambak udang vaname di Desa Bandaragung yang berhenti melakukan aktifitas sejak dua bulan lalu karena kemarau. Dia tidak ingin mengambil resiko tinggi dan cinderung merugi akibat menipisnya ketersediaan air di musim kemarau ini.
          “Minimnya pasokan air ini terjadi hampir dua bulan terakhir. Sehingga, sebagian tambak tidak produksi. Petani tidak bisa menebar benih karena air yang ada tidak cukup untuk produksi,” kata Samsul kepada Radar Lamsel, Kamis (15/8).

BACA :  Sosialisasi 3M di Peringatan HKN

          Pria bertubuh gempal ini menjelaskan, setiap tahun pada musim kemarau selalu menjadi kendala bagi petani tambak di desanya. Karena, selama ini petani hanya mengandalkan pasang air laut untuk memenuhi kebutuhan air tambak saat produksi.

          “Hampir setiap tahun kalau musim kemarau enggak ada air. Petani hanya mengandalkan air laut pasang, sedangkan saat kemarau air pasangnya kecil. Jadi air tidak bisa masuk sampai ke dalam areal tambak,” bebernya.

          Hal serupa dikatakan oleh Saripudin (36) yang berprofesi sama dengan Samsul. Petani tambak tradisional ini, lebih memilih beristirahat dan melakukan aktifitas lain untuk persiapan produksi usai musim kemarau.

BACA :  Tolong! Kualajaya Kebanjiran Lagi

Dia menjelaskan, bukan hanya minimnya pasokan air yang menjadi ancaman petambak pada saat musim kemarau berlangsung. Karena, kondisi ini juga menyebabkan suhu air meningkat dan berdampak pada kematian udang yang di produksi.

          “Saat kemarau, tidak hanya menghentikan proses produksi. Petani juga banyak yang merugi karena banyak udang yang mati karena peningkatan suhu air terlalu panas. Udang-udang tidak kuat dan akhirnya mati,” terangnya.

          Lebih lanjut Saripudin menerangkan, kekeringan yang melanda wilayah tambak di Desa Bandaragung ini juga disebabkan karena saluran irigisi yang telah mengalami pendangkalan.“Jadi air laut sulit masuk kewilayah tambak,” pungkasnya. (vid)