Fitriyani Butuh Uluran Tangan

904

Meski terkadang minder saat berkumpul dengan teman-teman yang ada dilingkungan tempat tinggal ataupun di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Baktirasa, Kecamatan Palas, Fitriyani (13) penderita penyakit kulit sejak lahir tetap saja menempuh pendidikan hingga duduk di kelas IV.

Laporan : AGUS PAMINTAHER, Sragi

Ketidakmampuan keluarga dalam mengobati anaknya, dirasakan Aceng (40) dan Eti (35) warga Dusun Cipta Rasa, Desa Baktirasa. Sejak kelahiran Fitriyani, penyakit kulit yang diderita tidak kunjung sembuh. Bahkan sekarang ini, seluruh kulit tubuh fitriyani melepuh seperti luka bakar.
Saat Radar Lamsel datang ke rumah Fitri, Rabu (16/12) sekitar pukul 09.00 WIB. Eti mengatakan anaknya mengalami luka seperti itu sejak dari lahir. Awalnya kulit Fitri berwarna kemerahan dan lama kelamaan melepuh hingga mengakibatkan luka.
“Kami tidak tahu penyakit apa yang diderita anak saya dan sampai sekarang seperti ini jadinya. Awalnya saya hanya berfikir kalau itu terkelupas biasa. Tetapi lama kelamaan, malah semakin banyak dan sekarang ini tambah parah,”kata Eti.
Eti menambahkan, anak pertama dari empat bersaudara tersebut juga kerap mengeluarkan bau busuk ketika penyakitnya tersebut kambuh. Itu terjadi jika penyakit anaknya mulai kambuh dan dimulai dengan bau keringat yang tak sedap. Namun, jika keadaan normal tidak terjadi apa-apa,”imbuhnya.
Melihat hal tersebut, Ageng orangtua Fitri telah berkali-kali mencarikan obat anaknya agat bisa sembuh ke Puskesmas terdekat. Namun obat tersebut tak kunjung bisa menyembuhkannya dan sempat juga Fitri di bawa ke Rumah Sakit swasta di Bandarlampung sebanyak dua kali.
“Pernah saat itu dibawa oleh Kepala Sekolah SDN 1 Baktirasa untuk berobat ke dokter spesialis kulit. Kata dokternya, Fitriyani hanya mengidap yenyakit biasa. Dari situ, anak saya ada perbuhan sedikit dan kami tidak mampu lagi mengatar ke dokter. Ini dikarenakan keterbatasan dana untuk berobat,”ujar Ageng yang bekerja serabutan.
Aceng berharap, Pemerintah Kabupaten Lamsel atau para dermawan dapat membantu pengobatan anaknya tersebut. Sebab, dengan keterbasan dana, Aceng bersama keluarganya tidak mampu membawa Fitriyani untuk berobat.
“Harapan kami, ada uluran tangan untuk mengobati anak saya agar bisa sembuh. Kasihan kalau di sekolah, jelas minder dengan teman-temannya. Sekarang kami hanya pasrah dan berharap ada yang mau membantu kami,”harapnya.
Fitriyani mengaku, jika penyakitnya kambuh, badannya merasa gatal-gatal dan panas. Meski demikian, ia tetap menjalankan aktivitas seperti anak-anak lainnya. “Saya berusaha agar tidak malu dengan teman-teman. Tapi, kalau sudah kumat sering merasa enggak enak dengan teman-teman karena aroma baunya,” kata Fitri. (*)

BAGIKAN