Gelombang Tinggi Diprediksi Sampai September

45
ILUSTRASI

KALIANDA – BMKG Maritim Lampung memprediksi gelombang tinggi di wilayah pantai Lampung Selatan masih berlangsung hingga September mendatang. Namun, kondisi demikian tidak akan terjadi setiap hari. BMKG menyebut gelombang tinggi diakibatkan dua hal.

Pertama adanya peningkatan kecepatan angin yang disebabkan pengaruh perbedaan tekanan. Kemudian adanya sirkulasi EDDY di utara Sumatera. Animasi gelombang berlaku pada tanggal 11-14 Agustus 2020. Update prakiraan harian tinggi gelombang wilayah perairan terjadi dua hari.

Padat aktivitas pelayaran berlaku tanggal 12 Agustus 2020 pukul 07.00 WIB hingga 13 Agustus 2020 pukul 07.00 WIB. Pada periode itu, narasi BMKG menyebut terdapat sirkulasi di samudera Hindia Barat Sumatera. Pola angin di wilayah Indonesia pada umumnya bergerak dari tenggara-barat daya.

BACA :  RSUD Bob Bazar Dapat Tambahan 1 Ventilator Dari Gerindra

“Dengan kecepatan angin 6-20 knot,” kata Kepala BMKG Maritim Lampung, Andi Cahyadi, S.E.,S.Si.,M.Si kepada Radar Lamsel, Rabu (12/8/2020).

Tinggi gelombang lebih dari 2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Sunda bagian selatan. Bahkan dalam kolom narasi BMKG, Selat Sunda bagian selatan bisa mencapai ketinggian gelombang 4-6 meter. Berbanding terbalik dengan Selat Sunda bagian utara hanya mencapai ketinggian gelombang sekitar 0,5-1,25 meter.

BMKG meminta masyarakat waspada. Kemudian memperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran. Perahu nelayan wajib memperhatikan kecepatan angin lebih dari 15 knot, dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Kapal tongkang dengan kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter.

BACA :  Bersiap Sambut Pjs. Bupati

Selanjutnya kapal ferry dengan kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 meter. Sedangkan kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar dengan kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 meter. Demikian peringatan yang dikeluarkan oleh BMKG Maritim Lampung.

“Masyarakat yang tinggal, dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu,” katanya.

 

Pada Sabtu (8/8/2020) lalu, gelombang di beberapa pantai di pesisir Lampung Selatan cukup tinggi. Bahkan peristiwa alam itu berimbas terhadap kunjungan ke destinasi wisata sehingga pengelola terpaksa menutup kases bagi pengunjung. (rnd)