Hadapi OPT, Petani Wajib Terapkan 6T

81
Randi Pratama - POPT Kecamatan Rajabasa tengah memberikan arahan kepada petani mengenai ancaman OPT di tanaman padi.

RAJABASA – Tanaman padi di kecamatan Rajabasa dianggap rentan terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Sebab, rata-rata umur tanaman di lahan seluas 328 hektar ini baru mencapai 10-65 hari setelah tanam (HST). Di umur seperti ini, tanaman padi biasanya sangat mudah diganggu berbagai jenis OPT.

Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Rajabasa mengumpulkan para petani di wilayah setempat untuk membahas persoalan OPT. Di antaranya mempersiapkan pelbagai langkah agar hama tak menyerang tanaman padi petani. Salah satu perhatian POPT mengarah pada kebijakan yang diterapkan petani.

“Dalam hal pengendalian, kita berharap besar kepada (kebijakan) petani,” kata POPT Kecamatan Rajabasa, Syafruddin, Selasa (11/8/2020).

Kepada petani, Syafruddin menjelaskan bahwa jenis OPT yang dominan adalah hama penggerek batang, dan wereng batang coklat. Kondisi ini didapat setelah POPT melakukan pengamatan sekaligus pantauan di lapangan. Saat ini, kedua OPT tersebut masih sebatas populasi. Sehingga belum menimbulkan serangan.

“Dan mudah-mudahan tidak terjadi serangan. Kami imbau ke petani untuk meningkatkan kewaspadaan. Pengamatan rutin adalah langkah utama,” katanya.

Lebih lanjut, Syafruddin meminta petani tidak boleh sembarangan memakai pestisida. Sebab, pemakaian obat pembasmi hama ini merupakan alternatif terakhir. Dalam hal pengendalian OPT, kata Syafruddin, petani tetap menerapkan kaidah-kaidah pengendalian hama terpadu (PHT).

Misalnya, kalau hama masih di batas ambang bawah kendali, petani tidak perlu menggunakan pestisida kimia. Cukup dengan pestisida nabati yang jenisnya terbuat alami dari tumbuh-tumbuhan. Jika harus terpaksa menyemprot dengan pestisida kimia, harus ada beberapa hal yang diperhatikan dengan prinsip 6 tepat.

“Tepat jenis, tepat dosis, tepat sasaran, tepat waktu, tepat cara, dan tepat pestisida. Dengan ng menerapkan itu, diharapkan agroekosistem yang ada di lahan bisa terjaga dengan baik. Sehingga hama penyakit bisa terkendali,” katanya. (rnd)