Hampir Separuh Agen e-Waroeng di Pesawaran Belum Miliki Mesin EDC

115
Foto Ilustrasi Berita e Waroeng

GEDONGTATAAN – Pendistribusian Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahap pertama di Kabupaten Pesawaran bermasalah. Pasalnya, hingga saat ini masih banyak agen e-waroeng di sejumlah desa yang belum diberikan mesin Electronic Data Capture (EDC) maupun logistik oleh pihak Perbankan dan suplayer.

Bahkan akibat kondisi tersebut, para penerima manfaat yang di desanya belum memiliki agen e-waroeng terpaksa harus 
menempuk jarak yang cukup jauh menuju desa tetangga yang telah memiliki alat dan logistik untuk pengambilan bantuan ini.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Pesawaran, Yulizar saat ditemui membenarkan kondisi tersebut, dimana menurutnya saat ini banyak agen e-waroeng di tiap desa yang belum memiliki mesin EDC dan itu menurutnya menjadi salah satu penghambat penyaluran BPNT. Bahkan dikatakanya dari total 148 agen e-waroeng se-Kabupaten Pesawaran, baru terpenuhi sekitar 60 persen. “Dan hal ini sudah kami konsultasikan kepada pihak Bank Mandiri pusat dan mereka berjanji dalam waktu dekat akan mengirimkan kekurangan alat itu,” ujar Yulizar, Kamis (15/8).

BACA :  Debat Publik Kedua Paslon Bupati Angkat Tema Pelayanan Publik dan Mencerdaskan Masyarakat

Namun, sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan ini, lanjut Yulizar, maka tiap agen tetap dapat melakukan proses pendistribusian di e-waroengnya masing-masing dengan cara meminjam mesin EDC kepada agen di desa lain yang telah selesai melakukan pendistribusian. 

 

“Agen dapat meminta kepada pihak Bank dan Tenaga Kerja Sukarela (TKSK) untuk mendampingi saat meminjam alat, jadi tidak harus masyarakatnya yang jauh-jauh datang ke desa lain. Dan itu solusi yang diberikan oleh pihak Bank,” terangnya.

BACA :  Polres Pesawaran Mapping TPS Rawan

Mengetahui kondisi ini, salah satu agen e-waroeng di Kabupaten Pesawaran menyayangkan minimnya sosialisasi dari pihak terkait seperti Perbankan, suplayer maupun pemerintah setempat karena tidak menjelaskan permasalahan teknis yang terjadi saat ini kepada masing-masing agen.

 
 “Kami tidak tau permasalahnya, apakah kami tetap ditunjuk sebagai agen atau sudah diputus. Karena disamping tidak ada penjelasan, alat dan logistiknya pun hingga saat ini tidak dikirim. Terlebih masyarakat pun bingung kenapa mengambil bantuan itu harus ke agen di desa lain dan itu jaraknya cukup jauh,” tandasnya. (Rus)