Harapan Petani Disapu Banjir, Ratusan Juta Sirna

105
Ist.Radarlamsel - Salah satu hamparan tanaman padi di Desa Sumber Sari, Kecamatan Sragi yang terdampak banjir, Selasa (5/5). Total tanaman padi di desa setempat yang terdampak banjir mencapai 90 hektar.

KETAPANG – Desa Sumur diterjang banjir bandang lagi pada Senin (4/5/2020) malam. Debit air di sekitar pemukiman warga meningkat lagi setelah hujan deras mengguyur desa setempat. Beruntung, wilayah banjir tidak meluas. Hanya menerjang Dusun Sumur, dan Dusun Sumur Induk, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang.

Disusul Dusun Muara Bakau, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni. Hal ini dibenarkan Kapolsek Penengahan, AKP. Hendra S. saat dikonfirmasi Radar Lamsel, Selasa (5/5/2020). “Ya, masih di lokasi yang sama. Seperti yang saya katakan sebelumnya, kalau hujan deras pasti banjir lagi,” katanya.

Sekretaris Desa Bakauheni, Riki, mengamini jika desanya diterjang banjir bandang. Jika melihat kondisi saat ini, lanjut Riki, banjir kemungkinan tidak hanya menerjang Dusun Muara Bakau saja, tetapi juga dusun lain. Di mana, ada empat dusun yang sangat rawan diterjang banjir. Di antaranya Dusun Kenyayan Bawah I, Kenyayan Bawah II, Pegantungan, dan Way Baru.

“Penyebabnya air tidak lancar. Terus ada banyak sampah di sekitar sungai. Tapi yang paling parah itu pendangkalan sungainya,” katanya.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Lampung Selatan, Wahyudi Pramono, mengatakan sedikitnya ada 79 rumah yang terendam banjir di Desa Sumur. Selain rumah, ada fasilitas umum yaitu 1 unit jembatan Way Sumur. Wahyudi mengatakan jembatan yang berlokasi di Jalan Nasional itu mengalami rusak berat.

“Kerugian sekitar Rp200 juta. Kemudian ada juga kerusakan jalan lingkungan di Dusun Sri Basuki, Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang. Estimasi kerugian berkisar Rp30 juta,” katanya.

Anggota DPRD Lamsel Fraksi Golkar, Ahmad Muslim, menilai beberapa desa di Kecamatan Ketapang, dan Kecamatan Bakauheni yang terkena banjir memang mengakibatkan kerugian yang besar bagi masyarakat. Menurut dia, kerugian ini juga membawa dampak perekonomian yang sangat besar di tengah wabah pandemi Covid-19.

“Pertanian padi yang siap panen terkena banjir mengakibatkan gagal panen. Begitu pun dengan para petambak udang, dan ikan tambaknya jebol akibat terjangan banjir. Kondisi ini semakin menyulitkan masyarakat, mereka tidak memiliki harapan lagi karena hasil (panen) itulah yang bisa diharapkan dalam kondisi saat ini,” katanya.

Muslim berharap pemerintah melalui dinas terkait bisa membantu masyarakat, atau petani yang terkena imbas banjir tersebut.

Pada bagian lain, Puluhan hektar tanaman padi di Desa Sumber Sari, Kecamatan Sragi mengalami kerusakan akibat dihantam banjir bandang, Selasa (5/5).
Banjir bandang tersebut terjadi disebabkan tingginya intensitas hujan yang terjadi sejak Senin (4/5) malam hingga Selasa dini hari. Tercatat luas tanaman padi siap panen terdampak banjir mencapai 90 hektar.
Ketua gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Tani, Desa Sumber Sari Setiono mengatakan, banjir bandang yang terjadi di wilayah persawahan Desa Sumbersari tersebut disebabkan tingginya intensitas hujan yang terjadi pada Selasa dini hari.
“Hanya banjir lewat, Mas, tidak berlangsung lama. Namun dampaknya sebagian besar tanaman padi petani Desa Sumber Sari roboh akibat dihantam banjir bandang tersebut,” ujar Setiono memberikan keterangan kepada Radar Lamsel.
Setiono mengungkapkan, akibat hantaman banjir tersebut mengakibatkan 90 hektar tanaman padi siap panen mengalami kerusakan. Diperkiran petani bakan mengalami penurunan produksi 40-50 persen.
“Total lahan di Sumbersari 105 hektar, yang terdampak banjir 90 hektar. Petani juga bakan mengalami penurunan produksi karena tanaman padi yang roboh bakal mengalami kerusakan buah,” terangnya.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penyuluh Pertanian Kecamatan Sragi Eka Saputra mengungkapkan, tingginya intesitas hujan yang terjadi ada Selasa dini hari tersebut tanaman padi di tujuh desa terdampak banjir.
Ke tujuh desa tersebut yaitu, Desa Sumbersari 90 hektar, Sumber Agung 10 hektar, Suka Pura dua hektar, Bandar Agung empat hektar, Mandalasari delapan hektar, Baktirasa 5 hektar, dan Desa Kuala Sekampung lima hektar.
“Banjir terjadi di wilayah sawah boloran atau sawah yang di keliling kebun. Tanaman padi yang siap panen yang terdampa total mencapai 128 hektar. Selain disebabkan oleh tingginya curah hujan banjir disebabkan karena air kiriman dari wilayah Ketapang,” ucap Eka.
Meski begitu, sambung Eka, hingga saat ini pihak belum bisa menentukan total luas kerusakan tanaman padi yang terdampak banjir tersebut.
“Saat ini kami masih belum bisa melakukan pendataan, berap luas kerusakannya. Pasalnya hingga saat ini kami masih melakukan pendataan,” tuturnya.
Terpisah Kepala Unit Pelaksana Teknis Penyuluh Pertanian Kecamatan Palas Agus Santosa mengungkapkan, meski curah hujan yang tinggi juga terjadi di wilayah Palas namun belum memberikan dampak banjir.
“Masih aman, walau hujan deras juga terjadi belum ada laporan tanaman terendam banjir dari petani,” pungkasnya

Sebelumnya, banjir banda melanda Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, sekitar pukul 14.00 WIB, Senin (4/5/2020). Penyebab banjir ini karena hujan deras dari pagi. Keadaan ini semakin parah karena genangan air juga turun dari gunung. Drainase di pemukiman warga tidak sanggup menampung, sehingga menyebabkan banjir.

Genangan air itu menyerang pemukiman warga. Di antaranya Dusun Sumur, Dusun Sumur Induk, Desa Sumur. Serta Dusun Muara Bakau, Desa Bakauheni. Ratusan KK dari dua desa ini berjibaku melawan derasnya genangan air yang melintasi kediaman mereka. Beruntung, hujan reda sehingga banjir menyurut pada pukul 16.30 WIB.

“Ada ratusan kepala keluarga yang terdampak, rinciannya Dusun Sumur Induk 79 KK, Dusun Sumur 50 KK. Dan Dusun Muara Bakau 30 KK,” kata Kapolsek Penengahan, AKP. Hendra S. saat dikonfirmasi Radar Lamsel.

Hendra mengatakan banjir bandang tersebut cukup parah. Ketinggiannya mencapai setengah meter, atau mencapai lutut orang dewasa. Tak hanya pemukiman saja, area perkebunan, persawahan, serta Jalan Lintas Timur (Jalintim) juga terkena imbasnya. Beberapa pohon pisang tumbang karena tak sanggup menahan debit air yang besar.

“Alhamdulillah, surut sekitar pukul 16.30 WIB. Kalau hujan deras seperti tadi lagi bakal banjir. Tapi kita bedoa saja, semoga tidak ada hujan susulan,” katanya.

Beruntung tidak ada korban jiwa yang disebabkan banjir bandang tersebut. Hendra mengatakan banjir itu hanya menyebabkan kerugian material saja. Perkiraannya mencapai puluhan juta rupiah. Perwira dengan pangkat balok tiga di pundak ini mengatakan kerugian itu meliputi rumah, dan batang elektronik.

“Ada kerugian material. Tadi ada rumah warga yang bangunannya terdiri geribik, dan ada juga barang elektronik yang rusak. Seperti kulkas, dan lain-lain,” katanya. (rnd/vid)